Di Publish Pada Tanggal : Senin, 20 Maret 2017 10:34 WIB

Ajarkan Anak Kita Berani Bilang,"Tiidak"

Jakarta, HanTer - Maraknya pemberitaan terkait kasus penculikan anak yang disertai penjualan organ tubuh di berbagai wilayah Indonesia, kerap dikhawatirkan berbagai kalangan. Bahkan modus tersebut, dilakukan oleh orang yang menyamar sebagai orang gila, pengemis, atau gelandangan.

Kasus penculikan dan penjualan organ tubuh anak ini memang belum bisa dipastikan kebenarannya, karena pihak Kepolisian menjelaskan bahwa kasus ini merupakan kabar tidak benar yang telah disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab melalui media sosial atau pesan singkat.

Namun, akibat meluasnya pemberitaan ini, beberapa orang yang dicurigai sebagai pelaku penculikan menjadi korban amuk warga hingga nyaris tewas.

Motif

Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto menyebutkan, terdapat tujuan tertentu terkait motif penculikan‎ tersebut.

"Ada empat tujuan besar, pertama adopsi ilegal, eksploitasi ekonomi biasanya dipekerjakan, eksploitasi seksual dan kemudian ada tebusan balas dendam ekonomi," katanya di Jakarta, sabtu (18/3/2017).

Dari pengalaman yang dimilikinya, biasanya para penculik melakukan aksinya dalam satu jaringan. Mereka membentuk sindikat untuk melancarkan aksinya agar tersistematis dan rapi. "Diduga lebih dari satu orang. Dan motifnya lebih kepada ekonomi" kata dia.

Ia menyarankan agar masyarakat, khususnya orangtua untuk membenahi sistem pendidikan bagi anak-anak di dalam rumah. Salah satunya, mengenai keberanian untuk mengatakan tidak pada ajakan seseorang tak dikenal.

Himbauan

Sebelumnya, ‎Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise, meminta semua pihak mewaspadai kasus penculikan anak yang disertai dengan penjualan organ tubuh. Hal ini dikatakannya, dalam menanggapi maraknya pemberitaan terkait kasus penculikan anak yang disertai penjualan organ tubuh di berbagai wilayah Indonesia yang dilakukan oleh orang yang menyamar sebagai orang gila, pengemis, atau gelandangan.

"Tindakan tersebut merupakan bentuk dari Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang harus diwaspadai bersama," kata Yohanna di Jakarta, Kamis (16/3/2017).

Menteri mengimbau orang tua, orang terdekat dan masyarakat agar selalu waspada dan terus mendampingi serta melindungi anak-anak dari ancaman modus baru penculikan.
Uang

Psikolog Klinis Forensik Dra. A. Kasandra Putranto mengatakan, bisa jadi kasus penculikan anak dengan mengambil organ tubuh terjadi di Indonesia. Penculikan anak terjadi karena situasi dan kondisi negara dan masyarakat yang sibuk dan tidak memiliki sistem pengamanan dan keamanan anak. Akibatnya membuat peluang kejahatan terhadap anak terbuka.

"Motif penculikan anak dengan mengambil organ tubuh adalah uang. Kan organ tubuh mahal. Oleh karenanya orang tua harus selalu mengawasi anak-anaknya," kata Kasandra kepada Harian Terbit, Jumat (17/3/2017).

Menurut Kasandra, dengan adanya aturan yang ketat terkait transplantasi organ maka pengadaan organ menjadi sangat langka dan imbasnya harga meningkat tinggi. Hal ini mendorong oknum-oknum yang mencari penghasilan instant untuk menekuni pekerjaan sebagai penculik yang mengambil organ tubuh anak.

"Pengawasan orang tua relatif renggang, masyarakat juga terlalu sibuk dengan urusan pribadi. Akibatnya anak berada pada situasi tidak aman dan mudah menjadi sasaran organ trafficking," jelas finalis Abang-None Jakarta pada 1989 ini.

Hoax

Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Ferdinand Andi Lolo mengatakan, berita adanya penculikan anak dengan mengambil organ tubuhnya adalah bohong alias hoax. Masyarakat diminta tidak percaya dengan adanya berita tersebut. Agar tidak membuat resah maka otoritas harus segera merespons dengan meluruskan berita yang tidak tepat.

"Media yang terpercaya juga harus membantu dengan menyiarkan berita resmi," kata Ferdinan kepada  Harian Terbit, Sabtu (18/3/2017)

Ketua Komnas Anak Arist merdeka Sirait mengemukakan,  kasus penculikan anak selalu menjadi perhatian lembaganya,  namun pihaknya belum mendapatlan bukti atau laporan dari masyarakat korban penculikan.


(Harian Terbit/Sammy/Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats