Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 16 Februari 2017 16:59 WIB

Tiap Tahun, Penderita Kanker Meningkat 20 Persen

Jakarta, HanTer – Organisasi Kesehatan Dunia (World Healt Organization/WHO) mencatat kasus kanker baru di dunia meningkat sebanyak 20 persen setiap tahunnya. Disebutkan, sejak 2008 sampai diperkirakan 2030 mencapai angka kasus kanker mencapai 26 juta jiwa dengan risiko kematian sebesar 17 juta jiwa.

Di Indonesia, prevalensi penyakit kanker juga cukup tinggi. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi kanker di Indonesia adalah 1,4 per 100 penduduk atau sekitar 347.000 orang. Tiga jenis kasus terbanyak pada kanker payudara, kanker leher rahim (serviks) dan kanker kepala leher (nasofaring).

Spesialis Radiologi, dr. Vera Nevyta Tarigan, SpRad mengatakan, penderita kanker terbanyak berasal dari kalangan perempuan dan kanker payudara di peringkat teratas. “Sayangnya, pasien kanker payudara sering terlambat mendapatkan penanganan, karena pasien datang untuk memeriksakan payudaranya setelah stadium lanjut,” jelas dia di Jakarta, Kamis.

Walaupun belum diketahui penyebab pasti munculnya kanker payudara, namun kata dia ada beberapa faktor risiko dari kanker payudara yaitu riwayat keluarga dengan kanker payudara dan tumor jinak, haid di usia yang terlalu muda, tidak menikah, tidak menyusui, dan melahirkan anak pertama di atas usia 35 tahun.

Disamping itu, faktor lainnya diantaranya pola makan yang tidak sehat, konsumsi alcohol, merokok, dan stres. “Umumnya, penderita kanker payudara memiliki keluhan mulai dari benjolan yang teraba di payudara, perubahan ukuran dan bentuk, kerutan pada kulit, puting yang tertarik, keluarnya cairan merah dari puting, dan teraba benjolan di ketiak,” kata dokter Siloam Hospital Kebon Jeruk (SHKJ) ini.

Ferdhy Suryadi Suwandinata, SpOG(K-FER), Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan mengatakan, selain kanker payudara, WHO juga mencatat bahwa kanker serviks banyak terdapat di kalangan perempuan Indonesia.

“Pada stadium awal biasanya kanker serviks belum memberikan gejala atau tanda apapun, jika kanker serviks telah memasuki stadium lanjut barulah timbul gejala,” katanya.

Gejala kanker serviks yang perlu diwaspadai, kata dia, adalah perdarahan setelah melakukan hubungan seksual atau keputihan yang tidak sembuh dengan pengobatan, keputihan yang menjadi tanda untuk kanker serviks adalah keputihan yang berbau busuk dan bercampur darah. “Pada stadium I dan II, pengobatan kanker serviks dapat dilakukan melalui pembedahan atau operasi,” ujarnya.

Ia menuturkan, operasi dapat dilakukan dengan teknologi minimal invasive surgery hanya dengan membuat empat lubang kecil agar proses penyembuhan lebih cepat dan nyeri pasca operasi lebih rendah.

“Tumbuh kembalinya kanker jarang terjadi bila kanker telah diobati secara tuntas. Akan tetapi, pasien dianjurkan untuk tetap melakukan pemeriksaan lanjutan secara berkala, termasuk melakukan pap smear, USG transvaginal, dan USG abdomen. Sementara untuk kanker serviks berstadium lanjut IIB hingga IVB, pengobatan dapa dilakukan melalui radiasi dan kemoterapi,” jelasnya. 


(Arbi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats