Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 04 Januari 2017 10:51 WIB

Rohingya dan Aleppo Contoh Dampak Tidak Bersatunya Umat Islam

Jakarta, HanTer - Dosen Tetap Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Bani Saleh, Andriyansyah,M.Pd.I mengatakan, saat ini Muslim Rohingya yang masih berada di Rakhine hidup terisolasi dalam ketakutan. Mereka takut  menjadi korban genosida oleh pemerintah Myanmar. Sejak tahun 2013 lalu, ribuan warga Rohingya melarikan diri ke Indonesia, Malaysia, dan Thailand melalui jalur laut.

Pria, wanita, dan anak-anak terkatung-katung di dalam kapal tanpa kejelasan apakah daratan yang mereka tuju bersedia menerimanya atau tidak.  PBB dalam hal ini terlalu lamban dalam penanganan kasus Rohingya. Sehingga membuat korban tewas semakin bertambah. Harusnya PBB segera mengambil kebijakan terhadap Myanmar untuk menghentikan tragedi kemanusiaan yang dialami Muslim Rohingya.

Sementara muslim di Aleppo juga mengalami hal yang sama karena  menjadi korban perang saudara antara Pemerintah rezim Bashar Al-Assd, oposisi dan ISIS. Banyak anak-anak yang menjadi korban dari perang saudara ini. Mereka harus tewas karena terkena tembakan dan bom yang diledakkan mereka yang berseteru.

"Kita lihat PBB tidak bisa tegas terhadap persoalan ini. Jka menyangkut kebijakan suatu negara, saya melihat PBB hanya bersifat imbauan saja karena tidak mempunyai kebijakan atau policy yang mampu menekan negara tersebut agar bisa sesuai dengan visi dan misi PBB," ujar Andriansyah.

Kurang Bersatu

Sementara itu pengurus Front Pembela Islam (FPI), Habib Ali Alatas mengatakan, permasalahan umat Islam yang paling mendasar saat ini adalah kurangnya semangat untuk bersatu, muslim mudah dipecah belah dengan berbagai alasan. Akibatnya ketika terjadi pembantaian terhadap umat Islam tidak pernah bisa sepakat dengan apa yang harus dilakukan.

"Beruntung umat Islam di Indonesia bisa bersatu lewat peristiwa 212. Kita bangsa Indonesia mampu membuktikan bahwa umat Islam mampu bersatu, tanpa melihat suku, golongan, madzhab dan lainnya, yang ada hanya Islam, mudah-mudahan spirit 212 dapat kita tularkan kepada bangsa seluruh umat Islam se-dunia," tegasnya.

Sementara pengamat teroris dari The Community of Ideological Islamic Analyst ( CIIA), Harits Abu Ulya mengatakan, tragedi pembantaian muslim Rohingya menjadi penanda sejarah yang sangat penting betapa hipokritnya lembaga-lembaga dunia seperti PBB. Pembantaian muslim Rohingya juga menjadi indikator begitu mandulnya lembaga ASEAN untuk bisa membantu menghentikan pembantaian tersebut.

Sikap pemerintah Miyanmar, sambung Harits, sangat tidak beradab. "Indonesia harusnya bisa memainkan perannya melalui saluran forum ASEAN atau saluran diplomatiknya untuk membantu muslim Rohingya keluar dari "neraka" rezim Miyanmar," ujar Harist. 

Lebih lanjut Harist mengatakan, kondisi yang tidak jauh berbeda juga dialami rakyat sipil di Aleppo Suriah. Mereka menjadi bulan-bulanan kebringasan rezim Bashar Assad dengan beragam senjata yang menghancurkan dan membunuh siapapun tanpa ampun. Yang lebih tragis lagi operasi pembantaian itu didukung oleh negara-negara sekutu utamanya seperti Iran, Rusia.

"Sekali lagi apa peran PBB dalam kondisi ini.  Apa langkah kongkrit OKI? Rakyat Aleppo menjerit tanpa tuan pelindung kecuali bersama keyakinan yang dimilikinya," jelasnya.

100 Tewas

Ko Ko Linn, pengacara dari Arakan Rohingya National Organization mengatakan, setidaknya lebih dari 100 Muslim Rohingya tewas di wilayah barat negara bagian Rakhine. Jika dikalkulasi sedikitnya 150 orang telah tewas. Namun, verifikasi independen untuk mengonfirmasi jumlah Muslim Rohingya yang meregang nyawa sulit dilaksanakan.

Sementara terkait muslim Aleppo yang gugur dalam perang saudara tersebut, menurut Kepala sektor pertahanan sipil Aleppo, Abu Ahmed Naolu mengatakan, jumlah korban sipil yang tewas pada di kota yang terkepung Aleppo akibat pengeboman udara Rusia melebihi 80 jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak Rabu (12/10/2016). Pesawat tempur menargetkan lima lingkungan sipi di kota itu dengan bom vakum dan penghilang bunker, yang merenggut nyawa 55 orang dan melukai sekitar 80 lainnya.


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats