Di Publish Pada Tanggal : Senin, 28 November 2016 19:43 WIB

PPNI Upayakan Harmonisasi Kompetensi Perawat ASEAN

Jakarta, HanTer - Masyarakat Ekonomi ASEAN sudah berjalan hampir satu tahun, dimulai pada Januari 2016 lalu. Dampaknya, persaingan perdagangan dan jasa termasuk di sektor kesehatan akan semakin kompetitif dan hanya negara yang siap saja yang akan mampu berkompetisi dan meraup keuntungannya.

Persaingan ini salah satunya terjadi pada profesi perawat. Karena itu, meningkatkan kualitas dan kompetensi perawat di dalam negeri menjadi sangat penting. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), organisasi inti dari keprofesiaan perawat pun terus berbenah diri. Salah satunya dengan terlibat aktif dalam penyusunan standar kompetensi perawat ditingkat ASEAN.

Demikian dikatakan Dr Prayetni, Dosen Senior Poltekkes Kemenkes Jakarta III di sela reuni akbar Poltekkes Kemenkes Jakarta III jurusan Keperawatan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (26/11/2016). “Harmonisasi kompetensi perawat yang melibatkan 10 negara ASEAN terus kita lakukan agar standar kompetensi perawat kita juga diakui dunia,” kata dia.

Di era MEA ini, Menurutnya setiap perawat bisa bebas keluar masuk antar negara ASEAN. “Jadi nanti pada 2020 perawat dari negara asing bisa kerja di Indonesia. Pun sebaliknya. Itu makanya kita persiapkan mutu dan kualitas perawat kita sejak sekarang supaya bisa berkompetisi,” lanjutnya

Karena itu disamping harmonisasi kompetensi, PPNI juga terus menghimpun kekuatan diri, dalam arti para perawat itu sendiri. Salah satunya menghimpun seluruh profesi perawat yang ada dalam satu wadah organisasi profesi yakni PPNI. Organisasi ini memiliki 21 himpunan seminat seperti persatuan perawat gigi Indonesia, persatuan perawat hemodialisa, persatuan perawat anestesi dan lainnya.

“Bergabungnya seluruh perawat dalam satu wadah akan memperkuat posisi tawar kita, baik dalam hal perjuangan profesi maupun persoalan lain,” tukas Prayetni.

Kehadiran organisasi perawat sebagai wadah atau payung bernaungnya seluruh perawat Indonesia menjadi bagian penting untuk menyiapkan diri menghadapi era MEA. Baik dalam hal perjanjian kerja maupun penyusunan regulasi ketenaga kerjaan.

Terkait kebutuhan perawat, menurut Prayetni, selama masih ada pelayanan kesehatan, maka kehadiran perawat sangat penting dan strategis. Itu sebabnya pasar tenaga kerja perawat akan terus terbuka lebar. “Rata-rata lulusan perawat tidak sampai nganggur. Bahkan banyak rumah sakit yang memesan tenaga perawat ke poltekkes sebelum lulus,” jelasnya.

Ia mengakui dari segi jumlah, lulusan perawat sudah mencukupi kebutuhan tenaga kerja domestik. Hanya saja alokasi atau distribusinya yang belum merata di seluruh Indonesia. Itu mengapa perawat diikut sertakan dalam program Nusantara Sehat yang diluncurkan Kemenkes. Tujuannya adalah agar kebutuhan perawat untuk daerah terpencil bisa terpenuhi.

Sebagai informasi, Reuni Akbar Poltekkes Kemenkes Jakarta III  itu sendiri diikuti lebih dari 300 orang alumni Poltekkes Jakarta III. Sementara, jumlah alumni sendiri diperkirakan mencapai lebih dari 6000 orang.

 


(Arbi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats