Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 28 Oktober 2016 10:09 WIB

Tajuk: Demo Dokter Untuk Apa?

Tak hanya kaum buruh, kalangan dokter pun melakukan aksi unuk rasa. Kalau buruh menuntut kesejahteraan, kalangan dokter tidak menuntut itu karena kesejahteraan mereka sudah mencukupi.  

Para dokter turun ke jalan sebagai ekspresi penolakan program studi Dokter Layanan Primer (DLP). Melalui program yang diamanatkan Undang- Undang Pendidikan Kedokteran tersebut, dokter pengunjuk rasa menyebut kebijakan itu tidak sesuai tuntutan kesehatan masyarakat.

Program studi DLP dengan segala bentuk pelaksanaannya bertentangan dengan UU Praktik Kedokteran. Bahkan mengingkari peran dokter dari hasil pendidikan fakultas kedokteran se-Indonesia. Apalagi, endidikan kedokteran saat ini semakin mahal, lama dan tidak prorakyat.

Para dokter menyebutinstitusi pendidikan kedokteran saat ini sudah bergeser dari lembaga pendidikan profesi yang luhur, menjadi pendidikan berorientasi keuntungan. Padahal, di sisi lain, rakyat masih membutuhkan perbaikan sarana-prasarana, obat dan alat kesehatan di seluruh fasiitas pelayanan kesehatan primer.

Dalam aksi itu para dokter menyampaikan tiga tuntutan, yakni:

Pertama, meningkatkan kualitas dokter di pelayanan primer dengan program pendidikan kedokteran berkelanjutan (P2KB) terstruktur.

Kedua, perbaikan proses akreditasi pendidikan kedokteran yang akuntabel, adil dan transparan. Dan Ketiga, menghadirkan pendidikan kedokteran yang berkualitas dan terjangkau.

Protes dokter tersebut terjadi di berbagai wilayah. Selain di Istana Negara, ribuan dokter di wilayah Solo Raya, Brebes, Grobogan, Kendal dan sejumlah daerah turun ke jalan.  

Kementerian Kesehatan merespons protes itu dengan bersikeras menjalankan program DLP. Program yang dimulai 1 September 2016 bertujuan meningkatkan layanan primer masyarakat dan kompetensi dasar dokter. Karena baru berjalan, maka wajar mendapat reaksi.

Menteri kesehatan RI, Nila Moeloek mengemukakan, pada dasarnya, program studi DLP dibentuk tak hanya untuk meningkatkan kompetensi dokter di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Tapi DLP dibentuk juga untuk memperbaiki pelayanan kesehatan masyarakat dalam mengurangi jumlah rujukan ke rumah sakit.

Tak ada masalah dengan aksi dokter itu. Ketika mereka merasakan ketidakadilan, mereka turun ke jalan. Yang jelas jangan karena melakukan aksi turun ke jalan layanan kesehatan kepada masyarakat terganggu dan pasien terlantar. Sumpah dan etik profesi dokter harus diutamakan.

Bagi publik yang terpenting adalah tersedianya layanan kesehatan yang baik, terjangkau dan hadirnya seorang dokter yang memiliki kompentensi. Selain itu, terbatasnya fasilitas kesehatan pendukung, harus pula dihilangkan. Publik mendukung tuntutan para dokter yang meminta penambahan tenaga dokter serta sarana dan prasana kesehatan di puskesmas.

Kita menyarankan, sebagai kaum profesional yang memiliki pendidikan terbaik, sebaiknya para dokter dan induk organisasi, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), menghindari aksi demo. Meski menyatakan tetap akan melayani masyarakat, tentu akibat aksi itu pelayanan terganggu.

Seperti yang terjadi di poliklinik, rumah sakit dan puskesmas di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mundur sekitar dua hingga tiga jam karena para dokter mengikuti unjuk rasa di DPRD Kabupaten Temanggung.

Tentu lebih elegan dan bijak apabila para dokter menyampaikan ‘uneg-uneg’ dan aspirasinya ke lembaga-lembaga resmi seperti ke Kementerian Kesehatan, DPR, dan bila perlu ke lembaga kepresidenan. Atau bisa juga melakukan pembelaan melakui mekanisme hukum.  

Kita mengkhawatirkan, publik menuding aksi unjuk rasa itu lebay dan merendahkan profesi dokter. Ingat, para dokter adalah tenaga profesional yang memiliki ilmu dan skill yang memadai di bidangnya. Jadi sebaiknya lebih cerdas dalam menyampaikan aspirasi.


(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats