Di Publish Pada Tanggal : Senin, 14 September 2015 01:48 WIB

Ini Kisah Raisamba, Pemuda Tanpa Tangan Mengais Rezeki di Ibukota

Jakarta, HanTer -  Saat melintas di sebuah jalan kawasan Cijantung, Jakarta Timur, terlihat sesosok pemda dengan tubuh telanjang dada tanpa kedua tangan mengharap belas kasihan. Dengan kondisi tubuh yang kekurangan itu, tentu saja menarik perhatian para pengguna jalan yang kebetulan melintas di kawasan tersebut. Siapakah pemuda itu?
 
Saat ditanyakan nama, remaja ini terlihat malu. "Nama saya Raisamba, umur 17 tahun,"  ujarnya kepada Harian Terbit di trotoar, Cijantung, Jakarta Timur, Minggu (13/9/2015).
 
"Saya tidak meminta, hanya duduk bersila saja di atas trotoar. Kalau ada yang memberikan uang, saya tidak menolak," ucapnya lirih seakan banyak hal yang tengah dipendam dalam hatinya.
 
Tak lama berselang, Raisamba menceritakan kisah hidupnya yang getir dimana sejak ia dilahirkan memang dalam keadaan tanpa kedua tangan. Kendati demikian ibunya Rika (56) dengan sabar tetap membesarkan dan memeliharanya. Karena itulah Raisamba bertekad membahagiakan orang tuanya.
 
"Terutama ibu, saya ingin sekali membahagiakannya. Uang yang saya dapat ini selalu saya kasih ibu," ujarnya.
 
Kejadian menjengkelkan pun dikisahkan mengenai ayahnya yang dianggap kurang bertanggung jawab. "Bapak saya namanya Anto. Sebenarnya kurang suka dengan dia (Anto) karena kurang tanggung jawab dan perhatian pada saya dan ibu, saya bahkan pernah berkelahi dengannya," beber Raisamba.
 
Remaja yang bisa bercerita dengan ucapan baik ini menambahkan, dalam aktivitasnya sehari-hari ia sudah terbiasa menggunakan kaki, termasuk saat makan dan minum. 
 
"Saya juga sholat, ya wudhu menggunakan kaki, membuka buku bacaan dengan kaki, saya lancar membaca. Kalau di pinggir jalan begini sengaja buka baju, cari keringat dan orang-orang bisa melihat jelas saya memang tak punya tangan. Tapi kalau ada yang mengajak kerja, saya sanggup," cetusnya optimis.
 
Selain itu keinginan kuat Raisamba untuk membantu ibu dikarenakan pendapatan yang minim. "Saya juga masih punya adik. Ibu saya kuli nyuci, bapak saya kerja bangunan, serabutan. Saya bersama saudara saya lahir di Cijantung, kami asli orang Betawi karena ibu Betawi," kisahnya.
 
Ketika ditanyakan apakah pernah mendapatkan bantuan dari dinas sosial? Raisamba hanya bisa menggelengkan kepala.
 
"Tidak pernah ada bantuan dari dinas sosial. Saya ingin membahagiakan orang tua dengan usaha sendiri, ingin punya usaha sendiri, nanti kalau sudah sukses juga untuk ibu. Saya di pinggir jalan begini memang keinginan saya bantu orang tua," paparnya.
 
Tidak hanya membantu orang tua, Raisamba mengaku ingin terus membantu diri sendiri. "Saya tiap empat hari sekali ke majelis taklim Nurul Mustofa, itu untuk membantu diri saya agar mengerti ilmu agama. Bahkan saya pernah bertemu habib Munzir al Musawwa dan ustadz Uje dalam mimpi sekitar tahun 2014. Kadang juga saya malam jumat ke majlis taklim Arrohmah dan pernah juga mimpi dengan Imam Bondjol," ujarnya.
 
Raisamba ingin sekali adiknya yang kondisi tubuhnya normal seperti anak-anak pada umumnya, bisa bersekolah lagi. "Adik saya berhenti karena biaya, memang sekarang gratis, tapi biaya lain kan tidak. Kalau saya saya tidak sekolah, belajar sendiri dari kecil. Pernah sih saya sekolah, tapi sekolah sepak bola di Poncol, sekarang sekolah itu sudah bubar," pungkasnya.


(Danial / Ruli)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats