Di Publish Pada Tanggal : Sabtu, 02 Mei 2015 14:44 WIB

Hasil Riset: 93 Persen Anak Pernah Alami Tindak Kekerasan

Jakarta, HanTer-Hasil riset yang dilakukan lembaga sosial `Save The Children` di 10 provinsi di Indonesia menunjukkan sebanyak 93 persen anak-anak pernah mengalami tindak kekerasan baik di rumah maupun di sekolah.

Pendiri Yayasan Pendidikan Indonesia Heritage Foundation (IHF), Ratna Megawangi, mengatakan, banyak riset terkait hal itu menunjukkan bahwa tindak kekerasan menjadi pendorong tumbuhnya emosi negatif anak di Indonesia.

"Emosi negatif bahkan sudah menjadi bagian hidup sebagian besar anak Indonesia," kata Ratna yang juga Ketua Bagian Tumbuh Kembang Anak di Fakultas Ekologi Manusia IPB, Sabtu (2/5/2015).

Bahkan ada studi lain serupa yakni Plan Internasional di 18 provinsi pada 2005 menyimpulkan sekolah bisa menjadi tempat yang berbahaya untuk anak-anak, karena banyak ragam bentuk kekerasan di sekolah.

Ratna mengaku prihatin dengan kondisi itu, mengingat kekerasan pada anak bisa menjadi sumber timbulnya sikap apatis, motivasi rendah, minder, resah, dan khawatir. "Sekolah juga bisa menjadi sumber bagi timbulnya sikap-sikap itu karena berbagai sebab," ujarnya.

Ia mencontohkan banyak sekolah yang menerapkan materi terlalu abstrak (menghafal, drilling, rote learning), orientasi terlalu akademik, orientasi nilai/ranking, hingga terlalu banyak pekerjaan rumah dan beban pelajaran.

"Selain itu juga banyak sekolah menerapkan one-way teaching, teacher centered, juga mendorong belajar karena takut, khawatir. Di samping banyak pula sistem sekolah yang terlalu terstruktur," tukasnya.

Hal itu, kata dia, sangat mungkin untuk menghambat potensi kretivitas anak. Oleh karena itu, Ratna menekankan pentingnya mengembangkan pendidikan karakter secara eksplisit dan implisit.

"Kita harus mulai terapkan metode pembelajaran holistik berbasis karakter untuk membangun jaringan koneksi yang kaya," urainya.

Kuncinya, tambah dia, adalah perlu dikembangkan sekolah yang menyenangkan bagi anak. Hal itu karena rasa takut yang dikembangkan di sekolah akan menjadi `racun` bagi anak yang membuat kerja otak tidak maksimal.

"Sebaiknya orang tua selalu bersikap penuh cinta dalam mendidik anak dan mengembangkan keterampilan mengelola emosi," tutupnya.


(adiantoro/ant)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats