Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 13 Oktober 2016 12:21 WIB

Kemuliaan Menyayangi Yatim

Google News - harianterbit.com

Sungguh bersyukur anak-anak yang pada masa kanak-kanaknya masih dalam asuhan dan didikan kedua orangtuanya. Mereka bisa bercanda, bisa mencurahkan isi hatinya kepada orangtuanya.

Tapi boleh jadi sudah menjadi suratan takdir ada anak-anak yang seharusnya masih mendapat kasih sayang namun pupus harapan karena salah satu atau kedua orangtuanya  telah tiada. Adalah kewajiban kita untuk menyayangi mereka.

Rasulullah pada masa kanak-kanaknya telah menjadi anak yatim. Abdullah ayahandanya meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan sang ibundanya. Selanjutnya ketika masih berusia sekitar 6 tahun maka Aminah ibundanya juga tiada.

Islam sangat peduli dengan keberadaan anak yatim, mengajarkan untuk menyayangi  dan  melarang berlaku kasar terhadap mereka. Memelihara, mencintai, dan menolong anak yatim merupakan ibadah. Sabda Rasulullah SAW, ''Barang siapa mengambil anak yatim dari kalangan kaum muslimin dan memberinya makan dan minum, Allah akan memasukkannya ke dalam surga.'' (HR Muslim).

Sedikitnya  dua puluh tiga kali Al-Qur’an menyebutkan tentang anak yatim dan memerintahkan kaum muslimin dan keluarga dekatnya  untuk menyantuni, mengasuh, melindungi serta tidak  menyia-nyiakan anak yatim. Allah SWT menyatakan orang-orang yang menyia-nyiakan anak yatim adalah pendusta agama. “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama”, Itulah orang yang menghardik anak yatim” (QS Al Ma’un :1-2).
 
Rasulullah juga bersabda: ''Sebaik-baik rumah kaum Muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Sejelek-jeleknya rumah orang-arang Islam ialah yang di dalamnya anak-anak yatim diperlakukan dengan jelek.'' (HR Ibnu Mubarak).
 
Kemuliaan anak yatim juga mempunyai kedudukan yang terhormat. Rasulullah dalam hijrahnya ketika  tiba di Yastrib (Madinah), maka kaum muslimin berebutan agar rumahnya disinggahi atau dijadikan tempat menginap Rasulullah. Ketika itu pula Rasulullah berkata: ''Aku akan menginap di mana untaku berhenti. Biarkanlah dia berjalan sekehendak hatinya”. Tiba-tiba  unta beliau berhenti di tanah milik dua anak yatim, Sahal dan Suhail. Di dekat tempat itulah Rasulullah lalu menginap.
 
Suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah bagaimana caranya mengatasi agar tidak keras hatinya. Rasulullah mengatakan agar menyayangi anak yatim karena menyayangi atau menyantuni anak yatim dapat melunakkan hati yang keras.

Wallohu a’lambishshawab.

( H Nuchasin M Soleh/Harian Terbit)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus