Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 02 September 2016 12:36 WIB

Merasakan Kesulitan Orang Lain

Google News - harianterbit.com

Hidup dan kehidupan kita tak dapat terlepas dari orang lain. Suatu ketika kita akan  menjumpai dengan permasalahan yang tengah dihadapi orang lain yang boleh jadi membutuhkan pertolongan kita.

Mungkin orang tersebut sungkan untuk menyampaikan kesulitan dan meminta pertolongan atas permasalahan yang tengah dihadapinya. Islam sangat menganjurkan agar kita dapat membina persahabatan dengan orang lain,  tidak egois, saling pandai menimbang rasa bisa memahami  sifat, karakter atau sesuatu yang diharapkan oleh kerabat atau sahabat kita.
 
Timbang rasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya sama-sama menaruh perasaan hati (perasaan kasih sayang, suka menolong, simpati, dan sebagainya). Merasa empati, tidak masa bodoh atau cuek.
 
Bertimbang rasa adalah fitrah manusia. Manakala kita pernah ditolong orang lain hendaklah kita juga mau menolong orang lain. Ketika orang lain mau memaafkan kesalahan kita maka sepantasnyalah kita juga mau memaafkan kesalahan orang lain.

Manakala  menyadari  bahwa sebenarnya kita mampu berbuat sesuatu untuk menolong kesulitan orang lain, maka bersegeralah membantu menolongnya setidaknya dengan ucapan yang bisa melegakan hati orang lain. Terlebih lagi bila orang itu telah memintanya kepada kita.

Karena pertolongan yang kita berikan, akan sangat berarti bagi orang yang sedang kesulitan. Kita berusaha untuk memahami kesulitan orang lain, bagaimana rasanya apabila kita berada di posisi orang yang meminta pertolongan pada kita.
 
Pada suatu hari Rasululah SAW ditanya oleh sahabat beliau: “Ya Rasulullah,  siapakah manusia yang paling dicintai Allah dan apakah perbuatan yang paling  dicintai oleh Allah ? Rasulullah SAW menjawab : “Manusia yang paling dicintai oleh  Allah adalah manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia  yang lain; perbuatan yang paling sedangkan dicintai Allah adalah memberikan  kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain, atau  melunasi hutang orang yang tidak mampu untuk membayarnya, atau memberi makan  kepada mereka yang sedang kelaparan dan jika seseorang itu berjalan untuk  menolong orang yang sedang kesusahan itu lebih aku sukai daripada beri’tikaf di  masjidku ini selama satu bulan ” (HR Thabrani ).

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh/Harian Terbit)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus