Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 02 Agustus 2016 13:38 WIB

Pentingnya Masalah Adab

Google News - harianterbit.com

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat terlepas dari hubungan interaksi satu dengan lainnya. Dalam hubungan interaksi itu, boleh jadi muncul gesekan-gesekan yang bisa berujung pada  kekerasan, kerusuhan, kesenjangan. Untuk menghindari itu,  memahami dan memiliki adab dan akhlak yag baik sangat penting. Apalagi seorang pemimpin diharapkan dapat menjaga adab, santun, akhlak dan tutur kata yang baik.

Para ulama Salaf lebih mendahulukan adab dibanding ilmu. Mereka sangat menjaga adab  dalam pikiran, ucapan, dan perbuatannya. Imam Syafii mendahulukan pentingnya adab dibandingkan ilmu. Beliau mempelajari masalah adab selama 30 tahun, sedangkan  mempelajari ilmu selama 20 tahun.

Beradab, menurut  Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya: mempunyai adab, mempunyai budi bahasa yang baik; berlaku sopan. Imam Syafi’i mengatakan  mempelajari adab itu seperti seorang ibu yang sedang mencari anak satu-satunya yang hilang.

Beliau  pernah ditanya seseorang tentang bagaimana besarnya keinginan dan kesungguhan beliau untuk belajar dan memahami adab. Beliau menjawab: “Ketika aku mendengarkan satu huruf saja tentang adab yang belum pernah aku dengar sebelumnya, maka aku rasakan seluruh anggota tubuhku menginginkan untuk mempunyai pendengaran sehingga mereka mendengarnya dan mendapatkan nikmatnya adab.”

KH. Hasyim Asy’ari, salah  satu pendiri NU (Nahdatul Ulama) dalam bukunya “Adabul ‘Aalim wal Muta nu (Adab Guru dan Murid)  mengulas tentang masalah adab. Beliau mengutip salah satu Hadist  Rasulullah tentang hak anak atas orangtua: ”Hak seorang anak atas orang tuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik.”

Masalah adab merupakan salah satu hak  yang harus diberikan oleh orangtua terhadap  anaknya karena tanpa adab dan perilaku yang terpuji, maka apa pun amal ibadah yang dilakukan seseorang tidak akan diterima di sisi Allah SWT.

Adab sangat erat kaitannya dengan  kataqwaan. Derajat seseorang menurut Islam bukan karena pangkatya, jabatannya, melainkan standar ketaqwaannya terhadap Allah.

“ ….Sesungguhnya orang  yang paling mulia diantara kamu  disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa  di antara kamu….”  ( QS :  Al Hujurat :13).

Wallohu a’lambishshawab.

( H Nuchasin M Soleh/Harian Terbit)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus