Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 25 Agustus 2015 13:24 WIB

Ambisi Bukan Ambisius

Google News - harianterbit.com

Setiap manusia memiliki ambisi untuk mengubah nasibnya dari keadaannya yang sekarang, dengan bekerja mengharapkan hasil yang terbaik mencapai cita-citanya. Setiap orang cenderung ingin menjadi pemimpin atau mendapatkan jabatan dalam komunitasnya mulai dari lingkungan yang terkecil, hingga yang lebih luas lagi yakni negara bahkan kalau bisa sebagai pemimpin dunia.

Namun Rasulullah pernah mewanti-wanti seperti sabdanya kepada Abdurrahman bin Samurah; ”Janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu maka kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya”. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Psikolog Tika Bisono mengatakan, setiap manusia harus memiliki ambisi. Ambisi itu sesuatu yang baik, karena merupakan cita-cita atau apa yang ingin dituju seorang untuk bertahan dalam hidupnya. Kalau orang tidak memiliki ambisi, berarti dia tidak mengisi kehidupannya,"

Tika mengingatkan, ambisi itu harus bisa dikendalikan karena ada nilai positif dan negatifnya, jika tidak akan menimbulkan sikap ambisius. Ambisius itu kata sifat dari ambisi dengan positif dan negatifnya. Ambisi positif seseorang agar berprestasi dan menghasilkan karya terbaik, sementara ambisi yang negatif adalah ambisi yang tidak sebanding dengan potensi yang dimiliki, sehingga akan memaksakan keinginannya dengan menghalalkan segala cara.

Pascawafatnya Rasulullah umat muslim dari kalangan Anshar dan Muhajirin sepakat memilih Abu Bakar sebagai khalifah. Dalam pidato politiknya pertama kali antara lain menyatakan: “Wahai saudara-saudara. Saya telah dipilih menjadi pemimpin, padahal saya bukanlah orang terbaik di antara kalian. Kalau saya berbuat baik (benar), maka dukunglah dan bantulah. Kalau berbuat salah luruskanlah saya. Kebenaran (kejujuran) adalah amanat (yang harus dilaksanakan) dan kedustaan adalah pengkhianatan (yang harus dihindari). Taatilah saya, selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kalau saya bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban taat kepada saya. Bergegaslah sholat semoga Allah senantiasa merahmati kalian”.

Dari pidato itu Abu Bakar menunjukkan sebagai sosok yang rendah hati menyadari bahwa, manusia memiliki kekurangan dan kelebihan, sehingga dibutuhkan untuk  saling mengingatkan dalam kebaikan dan dukungan dalam menjalankan kebenaran.

Wallohu a’lambishshawab.

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus