Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 15 Agustus 2018 21:21 WIB

Rupiah di Level Rp 14.630/Dolar AS,

Pakar Ekonomi UGM: Kondisinya Beda Dengan Krisis 98

Jakarta, HanTer - Pakar Ekonomi dari Universitas Gajah Mada, A. Tony Prasetiantono mengatakan kondisi pelemahan rupiah saat ini sangat berbeda dengan kondisi saat krisis moneter 98 yang terjadi di Indonesia.
 
Hingga hari ini, Kurs rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dollar amerika serikat, dipasar Spot pada selasa Siang, nilai tukar dollar ditransaksikan 14.630/US$. Sementara harga jual dolar AS masih berada di rentang Rp 14.695-Rp 14.790/US$.
 
"Kondisi sekarang tidak sama dan tidak bisa dibandingkan dengan kondisi bangsa indonesia saat 98," katanya saat diskusi yang digelar JMC dengan tajuk "Strategi dalam Mengantisipasi Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS" di Kawasan Haji Nawi, Jakarta Selatan, Selasa (14/8/2018).
 
Menurut dia, pelemahan nilai rupiah saat ini hanya melemah satu ribu rupiah sejak pemerintahan Joko Widodo pada tahun 2014.
 
"Kurs rupiah itu tahun ini hanya melemah Rp 1.000 dari Rp 1.3700 menjadi Rp 14.600 sekian jadi kalo dihitung-hitung itu seribu, ini beda dengan (kondisi krisis) 97 - 98 (ketika 97-98), Rupiah itu loncat dari Rp 2.300 menjadi Rp. 15.000 ini yg kita harus sosialisasikan pada masyarakat," imbuhnya.
 
Menurutnya pelemahan rupiah ketika krisis moneter 97 - 98 sangat drastis, bahkan kenaikan mencapai 6 kali lipat.
 
Selain itu, dia juga menilai bahwa kondisi perbankan saat ini dengan perbankan ketika itu juga sangat berbeda, dimana saat 97-98 banyak bank yang mengalami kolaps dan butuh suntikan bantuan dari Bank Indonesia.
 
Sementara kondisi perbankan Indonesia saat ini meski jumlahnya dibatasi, namun perbankannya sehat.Kemudian, dari sisi keuangan, pemerintah juga tak diharuskan melakulan penjualan aset - aset BUMN dan lainnya.
 
"Konteksnya beda, story behind nya beda. Cerita dibalik itu berbeda," jelasnya.
 
Dosen UGM ini juga mengaku yakin, pelemahan rupiah akan segera pulih di level Rp 13.000 apabila faktor eksternal bisa teratasi.
 
"Kurs rupiah dilevel sekarang melemah tapi dan mungkin tidak sangat susah kembali ke level Rp 13.000, karena memang banyak masalah yang menbuat ekonomi global kita makin susah, ada trade world, kenaikan harga minyak, ada kenaikan suku bunga di amerika," katanya.
 
"Ditambah lagi dengan faktor turkey (Terpuruknya Lira)," imbuhnya.


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats