Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 11 Juli 2018 11:39 WIB

Berbahaya Bagi Mesin Mobil dan Kapal, Kebijakan Fame B-20 Harus Ditolak

Jakarta, HanTer - Kebijakan Plt Menteri ESDM Luhut Binsar Pandjaitan untuk mencampurkan biofeul atau fame ke dalam produk bahan bakar minyak (BBM) terutama solar sampai 20% ditolak berbagai kalangan. Pasalnya, kebijakan tersebut hanya membela petani kelapa sawit. Sementara bagi industry otomotif dan perkapalan sangat berbahaya.
 
“Campuran biofeul sebaiknya maksimal 5%, sehingga tetap aman dan baik digunakan untuk kendaraan berbahan bakar solar di Tanah Air,” kata Direktur Puskepi Sofyano Zakaria di Jakarta, Rabu (14/9/2016).
 
Sebelumnya, Luhut menegaskan kepada Pertamina, bahwa B20 tidak hanya untuk solar subsidi (PSO). Tapi, BUMN perminyakan itu juga harus mengikuti aturan yang sudah dibuat pemerintah.
 
“Kemarin saya panggil Pertamina, saya bilang ‘eh kau jangan macam-macam. Sekali Pemerintah mengeluarkan Keppres, kamu harus menghormati itu Keppres. Kalau enggak pilihannya dua, saya coret atau kau (Direktur Pertamina) berhenti,” tandas Luhut.
 
Dia menambahkan, program B20 ini akan sangat bermanfaat bagi jutaan petani kelapa sawit di Indonesia bila benar-benar terimplementasi dengan baik. “Sekarang 4-5 juta hektar (ha) dari 9 juta ha lahan sawit itu adalah milik petani kecil. Kalau harganya kita sudah naik, yang menikmati siapa? Petani kita,” papar Luhut.
 
Jangan Dipaksakan
 
Menurut Sofyano, jika pemerintah ingin meningkatkan penggunaan CPO maka pemerintah seharusnya tidak memaksakan penggunaan CPO hingga 20 persen. “Cukup jika maksimal 5 persen,” kilah dia.
 
Jika pemerintah ingin meningkatkan penggunaan CPO lebih tinggi, menurut Puskepi, maka CPO harusnya diolah diproses dengan tekonologi tinggi yang dinamakan VHO atau biasa disebut green solar.
 
“Campuran CPO-nya malah bisa sampai 50 persen. Biayanya lebih mahal sedikit tetapi kualitasnya sangat prima, ramah lingkungan , cetan numbernya jauh lebih tinggi dan memenuhi standard Euro IV,” tandas Sofyano.
 
Green Solar Aman
 
Sofyano menambahkan, green solar jelas sangat aman bagi mesin kendaraan bermotor dan mesin kapal. “Seperti diketahui, mencampurkan fame 10% saja sudah berbahaya bagi mesin kendaraan. Kenyataannya, Pemerintah justru membikin peraturan campuran fame malah 20 persen bahkan ada upaya untuk ditingkatkan menjadi 30 persen,” kilah Sofyano.
 
“Dengan fame yang besar maka pengusaha kelapa sawit yang diuntungkan. Belum tentu kebijakan itu akan menguntungkan petani kelapa sawit dari rakyat kecil. Masalah ini yang perlu difikrikan bersama,” tegas Puskepi.
 
Pendapat sama disampaikan Capt Eddy Sutrisno, pelaku pelayaran gaek di negeri ini. “Boleh boleh saja dipaksakan campur B20 di BBM industri non subsidi. Mudah-mudahan tidak dipaksakan untuk dipakai di kapal,” kilah mantan nakhoda senior itu.
 
Apabila dipaksakan untuk dipakai di kapal, tambah dia, mudah mudahan kalau mesin macet dan kapal masuk ke dasar laut. “Tapi kalau yang mesin macet kena kapal penumpang dan menyangkut banyak nyawa maka mudah mudahan tidak saling lempar tanggung jawab,” tandas Edy seperti dilansir beritatrans.com.


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats