Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 01 Juni 2018 12:58 WIB

YLKI: Mogok Serikat Pekerja dan Pilot Garuda Langgar Hak Konsumen

Jakarta, HanTer - Rencana mogok Serikat Pekerja Garuda (Sekarga) dan Asosiasi Pilot Garuda (APG) semakin santer terdengar. Bahkan mereka mengancam akan mogok saat puncak arus mudik Lebaran.
 
Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi menegaskan, YLKI menolak rencana mogok Sekarga dan APG, jika berdimensi mengganggu pelayanan pada konsumen. Pasalnya, sebagaimana dijamin dalam UU Perlindungan Konsumen, dan juga UU tentang Penerbangan bahwa konsumen berhak mendapatkan kenyamanan, keamanan dan keselamatan saat meggunakan jasa penerbangan. YLKI bisa menghargai rencana mogok tersebut, jika tidak berimbas pada aspek pelayanan pada konsumen.
 
''Rencana mogok total Sekarga dan APG, pada akhirnya adalah bentuk nyata pelanggaran hak-hak konsumen. Dan hal tersebut bisa menimbulkan sikap antipati konsumen kepada Sekarga dan APG,'' ujar Tulus dalam keterangan tertulisnya, Jumat (1/6/2018)
 
YLKI mengingatkan, agar Sekarga dan APG untuk tidak mogok total kapanpun momennya, apalagi saat puncak arus mudik. Bernegosiasilah secara intensif dengan pihak managemen GA dan pemerintah secara elegan, tanpa mengorbankan hak-hak konsumen.
 
Motif Mogok Pilot
 
Terpisah, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mempertanyakan motif Sekarga dan APG, mengancam melakukan aksi mogok saat musim mudik Lebaran 2018. Pasalnya, aksi mogok akan mengganggu kelancaran arus mudik melalui transportasi udara. "Jangan melakukan mogok," ujar Budi.
 
Budi mengatakan, pilot sejatinya adalah profesi yang membanggakan karena memiliki tanggung jawab mulia memastikan keselamatan ratusan penumpang. Mereka diharapkan tidak mengkhianati kepercayaan para calon penumpang yang hendak mudik melalui jalur udara.
 
 "Saya pikir kalau itu dilakukan, mencederai komitmen kita sebagai anak bangsa," ujar Budi.
 
Lebih lanjut, Budi menyampaikan, sebagai BUMN, Garuda juga diharapkan senantiasa bisa menjaga kualitas pelayanan kepada para calon penumpangnya. Budi mengajak para karyawan Garuda untuk berunding dengan pemerintah alih-alih mogok.
 
"Kita harus bangga dengan Garuda, kita harus jaga bersama. Kalau ada masalah, silakan bicarakan," ujar Budi. 
 
Motif mogok memang dipertanyakan banyak pihak. Soalnya, kinerja Garuda di bawah kepemimpinan Pahala Mansury tengah membaik. Garuda berhasil menekan kerugian pada Kuartal I-2018 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Tercatat, pada Januari - Maret 2018 kerugian tercatat US$ 64,3 juta (Rp 868 miliar) atau turun 36,5% dibandingkan dengan Januari - Maret 2017 mencapai US$ 101,2 juta (Rp 1,36 triliun).
 
Mogok Besar Mudaratnya
 
Sementara, rencana aksi mogok yang dilakukan Sekarga dan APG mengundang keprihatinan banyak kalangan. Salah satunya Majelis Ulama Indonesia yang mengingatkan aksi mogok hanya mendatangkan mudarat (kerugian) yang berdampak luas bagi konsumen.
 
''Tentunya aksi mogok akan menimbulkan problem apalagi Garuda Indonesia sebagai perusahaan pelat merah. Aksi mogok apalagi saat musim mudik lebaran, tentunya amat besar mudarat ketimbang manfaatnya,'' ujar Wakil Ketua MUI Ikhsan Abdullah kepada wartawan di Jakarta, Kamis (31/5/2018). 
 
Untuk itu, Ikhsan mengimbau manajemen Garuda untuk membuka pintu dialog kepada serikat karyawan dan APG dalam mencari sumber masalah bersama. Dengan dialog diharapkan kedua belah pihak dapat menemukan solusi terbaik untuk kemajuan Garuda.
 
''Ramadan ini harus menjadi momen introspeksi. Kalau manajemen sudah membuka ruang dialog, serikat karyawan dan APG jangan berusaha untuk menunjukkan diri sebagai yang paling kuat,'' kata Wakil Ketua Komisi Hukum dan Perundang-Undangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.


(Anugrah)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats