Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 09 Mei 2018 11:49 WIB

Rupiah Tembus Rp 14.000 Per Dolar AS, Menkeu dan Gubernur BI Harus Mundur

Jakarta, HanTer--Pengamat ekonomi Gede Sandra mengatakan, laju nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang tembus Rp14 ribu dan beranjak menuju Rp15.000 harusnya bisa membuka mata publik terhadap kinerja Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dan  Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang gagal mengendalikan nilai Rupiah.  Karena meskipun Indonesia memiliki "Menkeu terbaik" di dunia, tetap tidak bisa mencegah tren pelemahan mata uang di pasar dunia.

"Menkeu dan tim ekonomi di pemerintahan tidak melakukan tugasnya menjaga kesehatan tubuh ekonomi Indonesia. Neraca transaksi berjalan dan neraca keseimbangan primer terus membesar defisitnya.Padahal itu adalah kunci kekuatan kurs," kata Gede Sandra kepada Harian Terbit, Selasa (8/5/2018).

Gede menuturkan, dengan nilai rupiah yang terus meroket tentu ada faktor kekecewaan investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi yang stagnan 5% setelah data BPS dilaunching kemarin. Padahal Gubernur BI telah melakukan kewajibannya untuk operasi pasar moneter hingga puluhan triliun rupiah. Terhadap lemahnya rupiah tersebut maka disarankan Menkeu dan Gubernur BI untuk mundur karena gagal menstabilkan nilai rupiah.

Namun Gede menyangsikan Menkeu dan Gubernur BI mau mundur dari jabatannya. Karena saat ini saja Sri Mulyani tidak berani untuk berdebat dengan Rizal Ramli. Padahal Jokowi atasannya telah memerintahkan siapapun pihak yang menanyakan soal hutang untuk berdebat dengan Menteri Keuangan. Namun nyatanya, walaupun sudah difasilitasi Sri Mulyani enggan meladeni untuk berdebat.

"Tapi saya tidak yakin dia berani mundur. Karena ibu SMI berdebat saja tidak berani, yang kemarin dia pidato gembar gembor itukan cuma omdo saja. sebagai contoh lain. Harusnya Ibu SMI bertanggung jawab dengan mundur donk setelah pejabat Kemenku tertangkap KKN. Dahulu kata Ibu SMI, remunerasi, menaikkan gaji pejabat, dapat menghentikan KKN, nyatanya tidak kan. Sekarang baru diakuinya, bahwa gaji tinggi tidak menjamin tidak KKN. Beliau tidak cukup hanya dengan minta maaf. Harusnya bila ksatria, seorang pemimpin yang sadar pekerjaannya gagal, dia akan mundur," paparnya.

BI Gagal

Sementara itu, anggota Komisi XI DPR, Muhammad Misbakhun, menilai, Bank Indonesia gagal menjaga nilai tukar rupiah, yang hari ini sempat melewati angka Rp 14.000 per dollar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah ini justru terjadi sehari setelah pemerintah bersama DPR menetapkan angka nilai tukar rupiah sebesar Rp 13.900 per dollar AS pada indikator asumsi makro ekonomi pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016.

Seperti dilansir Kompas.com, Misbakhun menilai, volatilitas nilai rupiah pada hari ini menunjukkan reaksi pasar yang negatif terhadap patokan nilai tukar Rp 13.900 per dollar AS.

"Hal ini sekaligus bukti kegagalan Bank Indonesia membangun kepercayaan para pelaku pasar. Respons pasar yang negatif terhadap Bank Indonesia ini risikonya harus diterima oleh seluruh bangsa Indonesia karena nilai rupiah sudah undervalued," kata Misbakhun, Rabu (23/9/2015).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, nilai tukar rupiah yang pada Senin (7/5/2018) mencapai Rp 14.000 per dollar AS akibat situasi pasar yang sedang melakukan penyesuaian terhadap perubahan kebijakan oleh Pemerintah Amerika Serikat.

“Untuk menyikapinya pemerintah  terus berkoordinasi menjaga kinerja perekonomian Indonesia tetap baik sambil sama-sama melalui masa penyesuaian ini. "Kami akan terus menjaga perekonomian Indonesia, fondasi kami perkuat, kinerja kami perbaiki, hingga apa yang disebut sentimen market itu relatif bisa netral terhadap Indonesia," kata Sri Mulyani di gedung Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin malam. 


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats