Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 26 April 2018 13:47 WIB

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah: `Kalau Tiba-tiba Rp13.500 ke Rp14.000, Pening Kepala`

Kalangan industri membutuhkan kestabilan nilai tukar rupiah di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus berlanjut. 
 
"Industri itu yang penting ada kestabilan. Kalau tiba-tiba dari Rp13.500 ke Rp14.000 ya pening  kepala," kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Indonesia, Rosan P Roeslani, di Jakarta, Rabu (25/4/2018).
 
Ia mengatakan, pengusaha tidak mempermasalahkan besaran pelemahan rupiah asalkan ada kestabilan yang berlangsung dalam periode waktu tertentu. Pasalnya, pengusaha akan kesulitan melakukan perencanaan bisnis karena kondisi nilai tukar mata uang yang terus berubah.
 
Ia pun pesimis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang beberapa hari ini mencapai Rp13.800 sulit kembali ke posisi Rp13.500. "Tapi ya sudahlah stabil saja di Rp13.700-Rp13.750. Kalau sampai ke Rp14.000 dampaknya juga pasti ada," katanya.
 
Stabilitas
 
Sementara itu, Ketua DPR Bambang Soesatyo merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Berdasar data Bank Indonesia (BI), kurs USD mendekati angka Rp 14.000 atau persisnya Rp 13.970.
 
Bambang mengatakan, Kementerian Keuangan dan BI harus punya langkah-langkah antisipatif demi menjaga stabilitas rupiah agar tetap normal. Menurutnya, berbagai aspek yang memengaruhi kurs rupiah harus terus dipantai. 
 
“Mengingat stabilitas nilai tukar menjadi suatu hal yang penting, terutama karena akan ada peningkata konsumsi kebutuhan bahan pokok menjelang Ramadan,” ujar Bamsoet -sapaan akrab Bambang- di Jakarta, Rabu (25/4).
 
Bamsoet juga punya saran ke pemerintah untuk mengangkat kurs rupiah. Dia mendorong Kementerian Perdagangan (Kemendag) segera memberikan insentif ekspor. 
 
“Tujuannya untuk mendapatkan surplus perdagangan serta mengurangi neraca keseimbangan primer negatif,” cetusnya. 
 
Suku Bunga
 
Pengamat ekonomi Tony Prasetiantono mengatakan kenaikan suku bunga acuan bisa menjadi salah satu upaya yang dilakukan bank sentral untuk menekan perlemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
 
"Jangan alergi dengan menaikkan suku bunga karena ini bagian dari taktik jangka pendek," kata Tony dalam acara diseminasi Laporan Perekonomian Indonesia 2017 di Semarang, Rabu, dilansir Antara.
 
Tony mengatakan kenaikan suku bunga acuan dari saat ini sebesar 4,25 persen bisa menjadi alternatif bank sentral untuk menjaga fluktuasi kurs rupiah yang sempat menyentuh Rp13.900 agar tidak sepenuhnya bergantung dari cadangan devisa.
 
"Kalau naik setidaknya 25 basis poin, mudah-mudahan rupiah masih terselamatkan," katanya.


(Harian Terbit/Danial)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats