Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 24 April 2018 11:09 WIB

TAJUK: Rupiah Anjlok Segera Lakukan Terobosan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. yang kini hampir menyentuh pada level Rp14.000 per dolar Amerika Serikat. Dolar AS kini diperdagangkan di kisaran Rp 13.900.

Untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus melemah tersebut, Bank Indonesia akan melakukan intervensi, yakni menjual dolar dan membeli surat utang negara. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo Jember Jawa Timur, Senin sore mengemukakan, dua intervensi itu yang dilakukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah tersebut disebabkan oleh faktor eksternal, bukan karena kondisi ekonomi di dalam negeri sedang melemah. Tekanan terhadap rupiah dikarenakan dampak ekonomi global yakni perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, sehingga tidak hanya berdampak pada Indonesia, negara-negara berkembang lainnya juga terdampak.

Ekonom senior DR Rizal Ramli justru berpendapat, ada faktor domestik yang memicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Artinya selain faktor internasional yang penting faktor domestik ini jarang secara jujur dikatakan, apa itu? Sederhana, itu account defisit.

“Ekspor tiga bulan negatif tapi bulan ini naik sedikit, terus service payment itu, kemudian kalau account priamary balance atau keseimbangan primer istilahnya itu juga negatif itu membuka Indonesia, Rupiah makin lama anjlok," sambungnya.

Untuk perbaikan kebijakan di pasar keuangan, seperti dikatakan Rizal Ramli, Gubernur baru BI harus mampu berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan serta Otoritas Jasa Keuangan agar mampu mengurangi dana asing di pasar keuangan (hot money) dan menggantikannya dengan dana asing berjangka panjang.

Selain itu, Pimpinan Bank Sentral juga harus mampu mendorong pemerintah atau kementerian di sektor rill agar mampu memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan, melalui kebijakan di sektor perdagangan.

Pelemahan kurs yang lebih dalam perlu diwaspadai. Selain memberatkan para importir dan impor barang modal untuk pengembangan industri maupun proyek pembangunan, pelemahan nilai tukar bisa membuat investor keluar dari Indonesia. 

Sementara  tim ekonomi Jokowi tampak seperti kebingungan, seakan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Padahal, rakyat dan para pelaku usaha menginginkan pemerintah bertindak cepat untuk membuat terobosan kebijakan agar rupiah menguat. Jika tidak akan mendorong melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok yang mencekik leher rakyat.

Nilai tukar rupiah yang melemah juga mengakibatkan permintaan ekspor pun turut menurun, sehingga mendorong terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal. Hal ini akibat kinerja industri melemah. Bukan tidak mungkin akan terjadi kelaparan di mana-mana, tentu hal ini menggoyahkan stabilitas politik.

Tentunya pelemahan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena dapat membuat defisit transaksi berjalan kian membengkak. Pelemahan berkepanjangan juga akan berdampak negatif terhadap industri dalam negeri. Sudah saatnya pemerintah meningkatkan ekspor, terutama industri manufaktur.

Perlu langkah konkret agar pelemahan rupiah itu tidak menaikkan harga kebutuhan pokok rakyat, apalagi dalam situasi menghadapi puasa dan hari raya. Langkah cepat harus segera dilakukan BI agar masyarakat tidak panik dengan nilai rupiah yang melemah dan tidak melakukan tindakan membeli dolar secara berlebihan yang justru dapat memicu semakin sulit untuk mempertahankan nilai rupiah.

Memperkuat nilai tukar nilai rupiah sangat penting dilakukan, karena, menjadi salah satu kunci menjaga ketahanan ekonomi nasional. Itulah sebabnya, negeri ini membutuhkan orang-orang cerdas, bukan pejabat `asbun`.


(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats