Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 03 April 2018 04:32 WIB

Harga BBM ‘Biang Kerok’ Kenaikan Inflasi Maret

Jakarta, HanTer - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan tingkat inflasi pada Maret 2018 sebesar 0,2% secara bulanan (month to month) atau 3,4% secara tahunan (year on year).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengatakan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubidi menjadi penyumbang terbesar inflasi Maret yang sebesar 0,20 persen, lebih tinggi dibanding Maret 2017 yang mencatatkan deflasi 0,02 persen.

"Kenaikan harga Pertamax sebesar Rp300 dan Pertamax Turbo di akhir Februari masih terasa dampaknya di Maret 2018, ditambah kenaikan harga Pertalite Rp200 di pertengahan Maret 2018," kata Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (2/4/2018).

Kenaikan inflasi bahan bakar akibat penyesuaian harga bensin tersebut pada Maret 2018 sebesar 0,04 persen. Kenaikan harga bahan bakar minyak tersebut membawa kelompok pengeluaran harga Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan mengalami inflasi hingga 0,28 persen, dan memberi andil 0,05 persen terhadap inflasi umum.

BPS juga mencatat kenaikan inflasi tinggi pada kelompok pengeluaran sandang dengan inflasi 0,36 persen, serta tarif kesehatan dengan inflasi 0,37 persen. Sedangkan kelompok pengeluaran bahan makanan menyumbang inflasi 0,14 persen dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,05 persen; dan tarif pengeluaran makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami inflasi 0,26 persen dengan andil 0,04 persen terhadap inflasi umum.

Dalam kelompok pengeluaran bahan makanan, terjaganya pasokan beras menyebabkan penurunan harga beras. Pada bulan ketiga tahun ini, harga beras menyumbang deflasi sebesar 0,10 persen. Harga makanan yang mencatatkan inflasi adalah cabai merah dengan andil 0,07 persen, bawang merah dengan andil 0,04 persen dan cabai rawit dengan andil 0,02 persen.

"Untuk pengeluaran makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, yang paling dominan adalah inflasi dari rokok keretek filter dengan andil 0,01 persen," kata Suhariyanto.

Sementara itu, andil inflasi inti masih tinggi terhadap inflasi Maret 2018 yakni sebesar 0,10 persen dengan kenaikan inflasi 0,19 persen. Sedangkan inflasi dari harga yang diatur pemerintah sebesar 0,20 persen dengan andil 0,05 persen. "Inflasi dari komponen harga bergejolak sebesar 0,15 persen dengan andil 0,05 persen," tuturnya.

Dari 82 kota yang didata BPS, sebanyak 57 kota di antaranya mengalaim inflasi dan 25 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jayapura, Papua sebesar 2,10% dan terendah di Sumenep, Jawa Timur sebesar 0,01%.

Ke depan, Suhariyanto masih optimistis inflasi 2018 bakal di bawah 3,5% secara tahunan. “Pasti pemerintah sudah membuat berbagai rencana seperti tidak menaikkan premium,” tandasnya.

 


(Arbi/Ant)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats