Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 15 Maret 2018 23:27 WIB

"Main Aman" Perbankan Nasional Dikritik

Jakarta, HanTer - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut perbankan nasional terlalu bermain aman dan kurang berani mengambil risiko dalam menyalurkan kreditnya. Kritik ini dilontarkannya terkait realisasi pertumbuhan kredit 2017 lalu yang hanya mencapai 8,4 persen dari target 9-12 persen.

"Perbankan kita jangan-jangan terlalu aman dengan angka sebesar itu. Saya tanyakan apakah perbankan kita terlalu aman atau mungkin bapak ibu sekalian yang selalu main aman," kata Presiden saat bicara di depan para pimpinan bank umum Indonesia yang berkumpul di Istana Negara Jakarta, Kamis (15/3/2018).

Presiden mengatakan angka rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 23,36 persen memang sangat kuat dibanding negara maju lainnya di angka 12-15 persen. Sedangkan excess reserve perbankan tercatat di kisaran Rp626 triliun juga dinilai sangat likuid. "Tapi mohon maaf, saya ingin tahu perbankan kita, jangan-jangan terlalu aman dengan angka sebesar itu," kata dia.

Presiden berharap para pelaku perbankan nasional untuk lebih agresif dan perlu keluar dari zona nyaman agar target pertumbuhan kredit 2018 naik 12 persen tercapai. "Angka 12 persen tidak mungkin tercapai kalau kita terjebak di zona aman tadi. Sekali lagi perbankan itu juga harus prudent. Apakah perbankan kita, pelaku jasa keuangan terlalu main aman dan terjebak rutinitas," kata Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengatakan, bermain aman di era di dunia yang begitu dinamis, era keterbukaan dan perkembangan teknologi yang begitu cepat adalah sebuah ilusi. "Main aman tidak ada, yang ada hanya malas atau kurang cerdas, ragu-ragu. Orang yang berpikir mempertahankan status quo, aman-man saja. Sekali lagi itu hanya ilusi, enngak ada seperti itu di saat dunia berubah begitu cepat," katanya.

Dalam kesempatan itu, Jokowi meminta perbankan nasional harus pro-aktif membantu pelaku usaha kecil memengah (UKM) untuk pindah ke platform digital. "Arahkan mereka, pengaruhi mereka agar ke platform digital," kata Presiden.

Apalagi, menurut dia, semakin maraknya bisnis rintisan (start up) dalam jaringan (daring) berinternet atau online, terutama di sektor pariwisata dan sektor gaya hidup (lifestyle) pada saat ini menandakan ada peluang besar menyalurkan kredit kepada usaha-usaha kecil untuk bergeser ke platform digital.

"Semakin ramainya orang jualan online, di facebook, di Youtube. Di situ ada peluang sangat besar dalam menyalurkan kredit kepada usaha-usaha kecil untuk bergeser ke platform-platform digital," tutur Presiden, seperti dilansir Antara.

OJK Membela

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebut konsolidasi kredit macet sebagai alasan kenapa penyaluran kredit tahun lalu tidak mencapai target. Perbankan, kata dia, mengutamakan penghapusan non-performing loan (NPL) ketimbang penyaluran kredit.

"Setelah berhasil menurunkan NPL menjadi 2,5%, pada akhir 2017 kemarin, dari yang di atas 3%. ini indikasi yang bagus, menunjukkan perbankan indonesia kuat, yang modalnya bisa menutup kredit macet," ujarnya.

Dari jenis bank, bank BUMN mengalami pertumbuhan 11,55%, bank asing 2,7%, bank umum swasta 5,8% dan BPD 9,09%.  “Jadi pertumbuhan kredit memang banyak didukung bank BUMN, kantor cabang bank asing lebih banyak cleaning NPL, BPD punya peluang lebih tinggi untuk tumbuh dan beberapa bank swasta konsolidasi," jelasnya. 

 

 


(Arbi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats