Di Publish Pada Tanggal : Minggu, 11 Maret 2018 22:05 WIB

Investasi dan Ekspor Masih jadi Andalah Pemerintah

Jakarta, HanTer - Menteri Keuangan Sri Mulyani optimistis stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga meski Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) berencana menaikkan suku bunga secara bertahap. Asalkan, pertumbuhan investasi dan lanju ekspor bisa digenjot.

"Pasti akan ada reaksi pasar, namun pada 2017 meski ada kenaikan suku bunga AS tiga kali, perekonomian Indonesia cukup stabil," kata Sri Mulyani di Yogyakarta, Minggu (11/3/2018).

Menurut dia, perkonomian Indonesia bisa tetap terjaga dengan syarat aspek makro ekonomi tetap tumbuh tinggi, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menurun, dan tingkat inflasi rendah. "Termasuk dari sisi keseimbangan eksternal dan internal terjaga. Eksternal itu neraca pembayaran, dan internal neraca produksi," kata dia.

Menurut Sri Mulyani, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif menghadapi rencana kenaikan suku bunga Amerika Serikat itu. Sejumlah langkah yang akan ditempuh, antara lain dengan mengakselerasikan investasi dan menggenjot laju ekspor nasional.

Dengan ekspor yang tetap tumbuh tinggi, menurut dia, Indonesia akan memiliki perekonomian yang kompetitif. Selain itu, apabila investasi bisa tumbuh di atas 7 persen maka pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa di atas 5,4 persen.

"Ini semua yang sedang dan terus kami lakukan. Artinya pemerintah akan terus berupaya baik dalam level mikro maupun makro, di tingkat perusahaan maupun di tingkat regional," katanya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri mengaku sedih ekspor dan investasi Indonesia tertinggal dari negara tetangga di Asia Tenggara atau ASEAN. Perizinan dan aturan yang tumpang tindih dan menghambat dinilai menjadi persoalan utama.

Maka dari itu, Presiden menyatakan akan melakukan perbaikan perizinan untuk mengubahnya."Tunggu akhir Maret ini semuanya akan saya obrak-abrik. Saya mulai enggak sabar," tegas Presiden Jokowi seperti dikutip dari laman Setkab.

Menurutnya, ekspor Indonesia kalah dari Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Sementara, investasi kalah dari Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Jika dibiarkan maka Indonesia bisa kembali disalip Kamboja dan Laos.

"Kalau kita terus-terusan, kita tidak bangkit dari tidur kita, kita tidak bangun, membangun, bisa-bisa kalah nanti dengan Laos, dengan Kamboja. Hati-hati ini," tuturnya.


(Ant)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats