Di Publish Pada Tanggal : Minggu, 04 Maret 2018 11:03 WIB

Tajuk: Kenaikan Harga Pangan Sumbang Inflasi

Kenaikan harga pangan menjadi penyumbang inflasi Jakarta pada Februari 2018 yang tercatat mencapai 0,37 persen. Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta menyatakan kenaikan harga beras, cabai merah, dan bawang merah menjadi faktor penahan perlambatan inflasi di ibu kota.

Naiknya beberapa harga komoditas pangan tersebut tentu saja publik terheran-heran. Pasalnya, sudah seringkali Presiden Joko Widodo meminta menterinya untuk mencegah kenaikan harga pangan. Kenyataannya, harga pangan tetap saja naik, seakan-akan permintaan presiden itu tidak digubris para pembantunya.

Masyarakat meminta agar harga pangan atau kebutuhan pokok stabil, tidak mengalami kenaikan signifikan. Permintaan wajar, karena memang saat ini daya beli masyarakat semakin melemah, belum lagi harus memenuhi kebutuhan lainnya, seperti biaya masuk anak sekolah atau masuk perguruan tinggi, dan lainnya.

Arahan Presiden Jokowi sangat jelas dan tegas agar menterinya bisa menurunkan harga pangan. Bisakah para menteri melaksanakan perintah Presiden tersebut? Jawabnya, ya harus siap karena demi kepentingan rakyat banyak.

Tentu jika para menteri itu tidak siap sudah sangat layak dicopot dari jabatannya. Apalagi, tak lama lagi reshuffle kabinet dilakukan. Bisa jadi, permintaan Presiden untuk menurunkan harga pangan itu merupakan ujian bagi para menteri sehingga lolos dalam reshuffle kabinet.

Supaya harga pangan tidak naik, tentu harus dilakukan berbagai upaya, misalnya ketersediaan pangan yang memadai, kelancaran distribusi pangan, dan komunikasi yang baik antara berbagai pihak berkepentingan. Jika pasokan cukup otomatis bisa menekan harga.

Pemerintah juga harus memberikan jaminan penyaluran barang-barang dari instansi pengelola dan sentra-sentra produksi ke pasar berjalan lancar agar tidak terlambat ke pedagang dan konsumen. Faktor keamanan dan ketepatan waktu distribusi barang-barang harus ada kepastian.

Kenaikan harga pangan selain menyusahkan rakyat juga mendorong inflasi. Itulah sebabnya kenaikan harga bahan makanan harus lebih mendapatkan perhatian dan harus diwaspadai pemerintah. Kita harapkan pada bulan puasa dan lebaran nanti tidak terjadi gejolak harga pangan.

Kita berharap pemerintah masih memiliki jurus pamungkas dan strategi jitu untuk menekan harga pangan agar tidak mengalami kenaikan.  Sudah pasti rakyat kecil yang menderita.

Mulai saat ini pemerintah juga harus  mempunyai strategi yang tepat untuk mengendalikan harga sepanjang masa, tak hanya di hari-hari besar.  Strategi yang tepat tentu akan mampu mencegah permainan para distributor yang menahan barang dalam waktu tertentu.

Publik meyakini pemerintah mampu menekan kenaikan, apalagi ada jaminan stok pangan aman.  Sekali lagi kita mengingatkan, tanpa pengawasan efektif, upaya menekan harga tidak akan berasil, dan itu hanya menjadi bahan komoditas politik yang merugikan pemerintah.

Harus diingat fluktuasi harga pangan yang terus menerus di tanah air akan berdampak pada kenaikan inflasi. Namun kalau pemerintah bisa mengambil langkah cepat mengendalikan harga pangan di pasar serta menjaga ketersediaan pasokan hingga akhir tahun maka inflasi ini akan bisa di bendung,tetapi kalau tidak maka kenaikan inflasi pasti terjadi.

Kunci menekan inflasi adalah mengendalikan harga pangan, terutama kebutuhan pokok. Jika inflasi turun itu berarti daya beli masyarakat mulai membaik.

Agar daya beli masyarakat tidak terganggu, sebaiknya pemerintah tak mengambil kebijakan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik.

Kenaikan harga pangan selain menyusahkan rakyat juga mendorong inflasi. Itulah sebabnya kenaikan harga bahan makanan harus lebih mendapatkan perhatian dan harus diwaspadai pemerintah.

Kita berharap pemerintah masih memiliki jurus pamungkas dan strategi jitu untuk menekan harga pangan agar tidak mengalami kenaikan.  Sudah pasti rakyat kecil yang menderita.


(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats