Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 31 Januari 2018 15:21 WIB

Penerbangan Indonesia Aktif di Asia Pasifik dalam Hal Keselamatan dan Navigasi Penerbangan

Beijing, HanTer - Otoritas penerbangan Indonesia yang diwakili oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan bersama para delegasi Indonesia siap mendukung inisiatif kerjasama negara-negara  di kawasan Asia Pasifik terutama terkait dengan bidang keselamatan dan navigasi penerbangan. 
 
Kerjasama dengan negara-negara di satu kawasan sangat perlu mengingat bisnis penerbangan saat ini sudah melampaui lintas negara. Agar  keberlangsungan bisnis penerbangan bisa terjadi, diperlukan kesamaan persepsi dan operasional antara otoritas penerbangan masing-masing negara terutama terkait keselamatan dan keamanan serta navigasi penerbangan.
 
Demikian disampaikan oleh Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso saat memimpin delegasi dalam Konferensi Tingkat Menteri Perhubungan di Kawasan Asia Pasifik yang diselenggarakan di Beijing, China pada 31 Januari – 1 Februari 2018 ini.
 
"Saat ini paradigma penerbangan sudah berubah dari yang dulunya saling fokus pada peningkatan keunggulan masing-masing negara menjadi fokus pada kerjasama dan kolaborasi antar negara dan industri penerbangan untuk mencapai peningkatan standar terkait keselamatan dan keamanan. Hal ini sesuai dengan inisiatif Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) yaitu `no country left behind`. Hampir semua kawasan di dunia sudah melakukan hal tersebut, utamanya Asia Pasifik perlu ditingkatkan mengingat akselerasi pertumbuhan jumlah penumpang, populasi pesawat terbang dan jumlah pergerakan pesawat mengalami akselerasi pertumbuhan terbesar di dunia,” ujar Agus Santoso mewakili menteri Perhubungan RI.
 
Untuk itu diperlukan pertemuan tingkat Menteri Perhubungan  yang membahas  isu-isu umum terkait aspek penting mengenai keselamatan dan navigasi penerbangan untuk mengembangkan kerjasama dan kolaborasi pada level pembuatan kebijakan. Pertemuan tersebut dianggap penting mengingat perkembangan bisnis penerbangan di Asia Pasifik yang meningkat sangat pesat.
 
“Indonesia sepakat dengan draft  untuk  mendorong pihak Pemerintah dan pihak industri di kawasan  Asia Pasifik agar melakukan sharing best practice mengenai manajemen keselamatan melalui Grup Keselamatan Penerbangan Kawasan (Regional Aviation Safety Group),” ujar Agus lagi.
 
Menurut Agus, Indonesia saat ini sudah mempunyai kesiapan yang lebih dari cukup untuk bekerjasama dengan negara-negara di kawasan ini mengingat beberapa pengembangan bidang penerbangan yang sudah dilakukan dan keberhasilan yang sudah dicapai.
 
Di bidang keselamatan penerbangan, beberapa keberhasilan yang sudah dicapai di antaranya adalah berhasil meningkatkan kapabilitas pengawasan keselamatan penerbangan secara progresif di mana hasil ICAO Coordinated Validation Mission (ICVM) yang diselengarakan pada 10 - 18 Oktober 2017 lalu, Indonesia telah mencapai nilai pemenuhan (Effective Implementation/ EI Score) terhadap audit ICAO (Universal Safety Oversight Audit Programme/ USOAP) jauh di atas rata-rata global aviation safety plan.
 
Dengan nilai EI unggul jauh di atas angka rata-rata global safety plan, Indonesia menargetkan Penerapan Program Keselamatan (State Safety Programme/ SSP) pada 2018, atau maju lebih dulu dari target internasional pada tahun 2025.
 
Berdasarkan hasil ICVM 2017 tersebut, Indonesia tidak memperoleh SSCs (Significant Safety Concern) atau red flag  pada pelaksanaan USOAP Continous Monitoring Approach (CMA).  Indonesia berkomitmen untuk mempertahankan nilai EI yang ada melalui penerapan sistem Continous Monitoring Approach (CMA) secara konsisten guna kinerja keselamatan penerbangan di Indonesia yang lebih baik.
 
Indonesia juga telah memiliki tatanan navigasi penerbangan nasional dan tatanan bandar udara nasional sebagai bagian dari rencana nasional. Dan semua bandar udara internasional Indonesia telah disertifikasi.
 
Di bidang navigasi penerbangan, Indonesia telah mengimplementasikan peralihan sistem Aeronautical Information Service (AIS) menjadi sistem Aeronautical Information Management (AIM) melalui sistem berbasis web yakni  (www.aimindonesia.dephub.go.id). Sistim navigasi Performance Based Navigation (PBN)  juga telah diterapkan di Indonesia.
 
Indonesia telah menerapkan kerjasama sipil militer di bidang pelayanan navigasi penerbangan melalui penandatangan MoU antara AirNav dan TNI AU yang di dalamnya mengatur tentang operasi penerbangan pada beberapa bandar udara dan pangkalan udara yang digunakan secara bersama;  penggunaan ruang udara; serta Pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN) dan Pendayagunaan Aset.
 
Di Indonesia, ADS-B untuk ATS surveillance separation (Tier-1) telah diterapkan di Jakarta FIR dan Ujung Pandang FIR. selain itu juga telah  berpartisipasi pada penerapan distributed multi-nodal ATFM ops trial bersama negara-negara Asia Timur pada tiga bandara Indonesia  yang tersibuk yakni  Bandara  Soekarno-Hatta Tangerang, Juanda Surabaya, dan Ngurah Rai Denpasar, dan Indonesia saat ini berproses untuk mentransformasi sistem manajemen slot ke ATFM CDM.
 
Kawasan Asia Pasifik dengan  lalu lintas penumpang sebesar 32 persen dari penerbangan global dunia (global passenger traffic) dan rata-rata pertumbuhan lalu lintasnya sebesar 9 persen tiap tahun, saat ini merupakan kawasan dengan pertumbuhan terbesar dan tercepat di dunia. Terdapat  11 bandar udara di kawasan Asia Pasifik yang masuk pada kategori 25 bandar udara tersibuk di dunia untuk pergerakan penumpang dan  7 bandar udara yang masuk pada kategori 15 bandar udara dengan pergerakan kargo tertinggi.
 
Perkembangan penerbangan di kawasan Asia Pasifik diprediksi akan semakin berkembang pesat mengingat kawasan ini merupakan rumah bagi 40 persen kelas menengah dunia dan akan meningkat menjadi di atas 65 persen pada tahun 2033 nanti.
 
Adanya Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA), liberalisasi pelayanan udara, pertumbuhan maskapai penerbangan bertarif rendah, peningkatan kapasitas bandara yang ada serta perkembangan tujuan wisata yang baru di kawasan Asia Pasifik merupakan sebagian dari faktor penyebab peningkatan penerbangan antara negara. Dengan semua faktor pemicu tersebut, diprediksi akan meningkatkan jumlah penumpang di Asia Pasifik yang saat ini 2.2 juta miliar penumpang menjadi lebih dari 5 miliar penumpang dalam dua dekade ke depan. oleh karena itu Penerbangan Indonesia yang memiliki potensi market besar dan wilayah luas siap berlari cepat paralel dengan progresifitas pertumbuhan penerbangan Asia-Pacific ini sebagaimana perintah presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan.  
 


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats