Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 26 Januari 2018 19:57 WIB

Pengamat: Benahi Garuda Tidak Semudah Membalik Telapak Tangan

 
Jakarta, HanTer - Pengamat Transportasi, Azas Tigor Nainggolan mengkritisi aksi Serikat Pekerja PT Garuda Indonesia Bersatu --terdiri dari Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia dan Asosiasi Pilot Garuda (APG)--yang  kembali mendesak perombakan jajaran direksi. Pasalnya, desakan tersebut terlihat disampaikan tanpa mempertimbangkan indikator kinerja yang terukur.
 
''Terkait keinginan restrukturisasi direksi itu adalah menjadi kewenangan pemegang saham dalam hal ini pemerintah, bukan ranahnya serikat karyawan dan APG. Pemegang saham tentu memiliki penilaian sendiri terkait kinerja direksi,'' ujar Azas kepada wartawan di Jakarta, Jumat (26/1/2018).
 
Azas mengatakan, jajaran direksi saat ini belum genap setahun dalam menjalankan dan mengembangkan perusahaan. Tentunya, ada rencana strategi jangka pendek dan panjang yang akan dan sudah dijalankan jajaran direksi. 
 
''Semua ini kan ada indikatornya, dapat diukur dan memiliki target yang jelas. Upaya memperbaiki Garuda tidak semudah sekadar membalikan telapak tangan,'' katanya. 
 
Dengan menilai indikator kinerja direksi, menurutnya, dapat diketahui dengan jelas apakah ada upaya perbaikan, pembenahan dalam mengembangkan Garuda. Terpenting itu adalah apakah direksi punya kapasitas dan kemampuan dalam mengembangkan perusahaan. 
 
''Jadi indikator bukan hanya menuntut direksi harus dari internal Garuda semata. Kalau mendesak-desak dari internal justru memunculkan dugaan hanya bagian perebutan jabatan semata?'' tegas Azas.
 
Kinerja direksi di bawah komando Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Pahala N Mansury mulai membenahi perusahaan penerbangan pelat merah itu April 2017. Sebagai mantan bankir Bank Mandiri, Pahala mendapat tugas membenahi kondisi keuangan Garuda. 
 
Meskipun masih mencatatkan kerugian, namun, performa keuangan maskapai penerbangan plat merah ini makin membaik. Direksi belum genap bekerja setahun namun pada kuartal III tahun 2017, Garuda Indonesia berhasil membukukan laba bersih 61,9 juta dolar AS, naik 216.1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Artinya, kinerja keuangan mengalami perbaikan bukan penurunan. Garuda juga telah melakukan renegosiasi kontrak pesawat bersama pihak manufaktur atau lessor hingga harga sewa turun 25%. 
 
Sebelumnya Mei 2017--satu bulan direksi dilantik--serikat pekerja Garuda sempat mengancam pelambatan (slow down) dan mogok operasi. Aksi mereka dikecam berbagai kalangan karena hanya berpotensi merugikan konsumen Garuda.
 
Berdasarkan catatan redaksi, pilot Garuda menerima gaji paling besar dibanding maskapai Indonesia lainnya. Gaji pilot yunior Garuda bisa mengantongi Rp60 juta dan pilot senior  Rp100 - 150 juta/bulan. Gaji ini belum termasuk fasilitas berlimpah lainya seperti asuransi personal,  tunjangan kesehatan, fasilitas antar jemput (dimana di airline lain sudah tidak diberikan), hingga fasilitas tiket konsesi bagi pilot dan anggota keluarganya. Meski demikian, dibanding  maskapai lain, serikat pekerja dan asosiasi pilot Garuda termasuk paling sering menuntut kenaikan gaji/kesejahteraan, termasuk saat kondisi keuangan Garuda yang sedang dibenahi saat ini. 


(Anugrah)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats