Di Publish Pada Tanggal : Minggu, 05 November 2017 15:29 WIB

Direktur Keuangan Pertamina: Kas Pertamina 4,8 Miliar Dolar AS

Jakarta, HanTer - Direktur Keuangan PT.Pertamina (Persero), Arief Budiman , mengatakan bahwa kas Pertamina hingga September 2017 , mencapai 4,8 miliar dolar AS. Angka ini lebih besar sedikit dibanding kas yang dimiliki perusahaan minyak ExxonMobil sebesar 4,3 miliar dolar AS.
 
''Dengan kas sebesar itu maka Pertamina bisa membiayai beberapa projek,' ungkap Arief Budiman kepada Harian Terbit, Minggu (5/11/2017).
 
Arief menambahkan, dalam laporan keuangan kuartal III, diberitakan bahwa Perusahaan energi asal Amerika Serikat itu memiliki kas sebesar 4,3 miliar dolar AS. Ini lebih kecil sekitar 500 juta dolar AS dari kas yang dimiliki bumn Pertamina. Sementara perusahaan minyak internasional Chevron diberitakan memiliki kas sebesar 6,6 miliar dolar AS.
 
''Pertamina memang butuh kas besar untuk menghadapi proyek. Jadi dengan kas itu . nantinya, perusahaan tidak perlu lagi bergantung dengan utang,” katanya.
 
Pertamina , lanjut Arief, saat ini sudah membayar utang sebesar 750 juta dolar AS. Pertamina memang butuh untuk menabung, karena ke depan nya tidak bisa semua harus dengan utang. Jadi ada ekuitinya.
 
''Kas berlebih juga tidak begitu baik karena tidak produktif, namun hal ini dibutuhkan untuk menabung sebagai bagian ekuitas investasi Pertamina ke depan. Dan diperkirakan setiap tahunnya Pertamina harus menyisihkan 1-2 miliar dolar AS,” jelasnya.
 
''Perseroan menargetkan menabung dan menyisihkan tiap tahun sebesar 1-2 miliar dolar AS untuk dimasukkan ke kas internal. Dengan begitu setiap ada proyek berjalan, perusahaan masih menyisakan ekuitas agar kondisi keuangan tidak limbung,” tambahnya.
 
Terkait prospek Pertamina di tahun depan, Arief mengaku optimistis Pertamina dapat mencetak laba lebih baik lagi ditahun depan lantaran harga minyak dunia yang terus berangsur membaik.
 
''Targetnya tahun depan bisa memperoleh laba sekitar 2,15 miliar dolar AS dan saat ini harga minyak sudah berangsur naik,” pungkasnya.
 
Sementara itu , Pengamat kebijakan enerji, Sofyano Zakaria, berharap Pemerintah khususnya menteri keuangan fokus memberi perhatian terhadap keuangan Pertamina.
 
''Menteri keuangan sudah sewajarnya membantu Pertamina dengan menyiapkan anggaran untuk pembayaran pihutang Pemerintah kepada Pertamina tepat pada waktunya,” kata Sofyano yang juga direktur Pusat Studi Kebijakan Publik, PUSKEPI.
 
Sebagaimana diketahui bahwa terkait biaya subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan elpiji , Pemerintah masih memiliki kewajiban pembayaran kepada Pertamina yang nilainya mencapai Rp 30 triliun.
 
''Jika menteri keuangan tidak membayar ini , maka kas keuangan Pertamina bisa tergerus hanya untuk menalangi biaya subsidi bbm dan elpiji yang sebenarnya merupakan beban tanggung jawab pemerintah” tambah Sofyano.
 
Setidaknya Kemenkeu bisa mencicil sebesar Rp20 triliun dulu.Dengan ini maka keberpihakan kementerian keuangan dan Pemerintah terhadap keberadaan dan peran BUMN Pertamina akan jelas terlihat dan sekaligus membuktikan bahwa tidak ada masalah dengan keuangan Pemerintah” tutup Sofyano Zakaria.
 


(Akbar)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats