Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 04 Oktober 2017 20:10 WIB

APKLI Tolak Kebijakan Mendag

Ritel Modern Bunuh 3 Juta PKL dan 3500 Pasar Tradisional

Jakarta, HanTer - Ritel modern telah membunuh 3500 pasar tradisional dan 3 juta pedagang kaki lima (PKL) kelontong sejak dikeluarkannya Perpres RI 112/2007 tentang Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Hal ini bukan lagi soal sinergi, melainkan sudah fase emergency. Negara wajib hadir lindungi PKL atau ritel tradisional.

“Ritel modern telah mematikan dan menjajah PKL, pasar tradisional yang merupakan mata pencarian sebagian besar rakyat Indonesia. Oleh karena itu, APKLI menolak dengan tegas rencana Mendag RI, Enggartiasto Lukita menjadikan ritel modern sebagai pemasok barang yang dijual PKL/ritel Tradisional,” kata Ketua Umum DPP APKLI, Pemimpin Besar Revolusi Kaki Lima Indonesia, Rabu (4/10/2017).

Ali Mahsun menyampaikan hal itu pada Acara Ngobrol Pemerataan Ekonomi. Acara ini dibuka Menko Perekonomian, Darmin Nasution dan Keynote speak Mendag RI Engtartiasto Lukita di Museum Nasional Jakarta Rabu (4/10).

Ali menegaskan, APKLI pastikan ada skenario besar (the biggest agenda) dibalik kebijakan tersebut, dan hal ini merupakan kelanjutan dari kebijakan pemerintah perlonggar ijin ritel modern tahun 2015. Ritel modern adalah kepanjangan tangan kongsi multinasional asing dan meminjam tangan Mendag RI yang bernafsu untuk menguasai potensi dan pangsa pasar ekonomi rakyat Indonesia secara menyeluruh.

“APKLI akan melawan apapun resikonya kalau hal tersebut tetap dipaksakan pemerintah," tegas Ali.

Menurutnya, per Agustus 2014 ada 23 ribu ritel modern terdaftar resmi di Kemendag RI. Pada tahun 2017 Kemenko Perekonomian RI mencatat ada 36 ribu ritel modern. Sedangkan Fakta dilapangan 1 ijin berdiri 3-4 ritel modern. Artinya saat ini ada 108 - 148 ribu ritel modern diseluruh Indonesia. 

Keberadaan 1 ritel modern membunuh 20-50 PKL kelontong, dan 1 supermarket bunuh 200-500 PKL kelontong. Pemerintah Jokowi-JK melalui Mendag RI bukan menyudahi bulan madu dengan mereka (ritel modern) namun sebaliknya memiliki rencana dan agenda besar menjadikan ritel modern sebagai pemasok barang yang dijual PKL atau ritel tradisional. 

“Kondisi ini wajib dihentikan dan harus dilawan karena kasat mata dan nyata sebagai ancaman serius terhadap keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” ujar Ali, lelaki berkumis eksentrik asli putra Mojokerro Jawa Timur.

Dia menegaskan, demi merah putih dan NKRI, APKLI telah tetapkan lakukan percepatan perang gerilya PKL Indonesia untuk mewujudkan Revolusi Kaki Lima Indonesia pada Munas V APKLI tanggal 15-17 April 2017 di Depok Jawa Barat. 

“Revolusi ini merupakan agenda tunggal, agenda besar APKLI dan dalam tempo secepat-cepatnya harus dapat menegakkan kembali ekonomi rakyat dan merebut kembali kedaulatan ekonomi bangsa dalam naungan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” papar  ebolan FK Unibraw dan FKUI Jakarta ini. 


(Danial)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats