Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 23 Agustus 2017 13:11 WIB

Kebijakan Ekonomi Pemerintahan Jokowi, Investasi China-Jepang Sama-sama `Jerat` Indonesia

Jakarta, Hanter - Terus meningkatnya investasi China di negeri ini menjadi isu kontroversial. Pemerintahan Jokowi-JK pun dituding berkiblat ke negeri Tirai Bambu itu, sementara negera lain seperti Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara barat lainnya terkesan diabaikan. Dalam hal infrastruktur, China dan Jepang sempat bersaing ketat untuk menggarap proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Pemerintah Indonesia akhirnya menjatuhkan pilihan kepada China menggarap kereta api cepat Jakarta-Bandung, karena dianggap lebih banyak memberikan keuntungan, meski rekornya tidak sebaik Jepang. China dan Jepang sama-sama menyatakan keseriusannya menggarap proyek kereta api cepat di Indonesia, termasuk kereta api cepat  Jakarta-Surabaya.

Kekalahan Jepang dalam proyek KA cepat membuat negeri Sakura itu agak kecewa. Pimpinan Kamar Dagang dan Industri Jepang Shoichi Kameyama, mengatakan, investasi Jepang yang semula akan ditujukan ke Indonesia dan Filipina, namun batal dan dialihkan ke Vietnam, karena investor Jepang khawatir dengan situasi politik, hukum, dan ketenagakerjaan yang tak stabil di kedua negara.

Kameyama tidak secara spesifik menyebut Indonesia, yang daya saing globalnya terus merosot dan belum juga pulih sejak krisis finansial tahun 1997. Selain Vietnam, Jepang juga akan berinvestasi ke China dan Thailand.

Rebutan Tender

Perebutan tender China dan Jepang untuk proyek kereta cepat menunjukkan, posisi Indonesia di kawasan sangat strategis. Namun menurut pengamat geopolitik internasional, ada perbedaan kepentingan antara China dan Jepang dalam hal ini.

“Indonesia dari dulu secara geopolitik memang penting. Salah satunya karena posisi Indonesia. Dan indikatornya adalah Indonesia adalah negara terbesar di kawasan, tidak ada alasan Indonesia tidak penting,” kata Mahmud Syaltout, pengamat geopolitik dari Universitas Indonesia seperti dilansir CNN Indonesia, Senin (31/8).

Nilai Investasi

Nilai investasi China di Indonesia memang terus merangkak naik. Pada tahun lalu (2016), misalnya, nilai investasi langsung mereka mencapai US$ 1.01 miliar. Angka ini jauh lebih besar dari tahun 2015 yang hanya US$160,27 juta.

Dengan investasi mencapai angka US$ 1.01 miliar, China menjadi investor terbesar ketiga di Indonesia setelah sebelumnya hanya menempati peringkat ke-10. Negeri Tirai Bambu ini menyalip Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Di Indonesia, investasi Chhina masuk ke berbagai sektor. Mulai dari pertambangan, transportasi, konstruksi dan real estate, perkebunan, hingga pembangkit listrik.

Siaran pers dari KADIN menyebutkan bahwa 12 nota kesepahaman telah ditandatangani dalam berbagai proyek infrastruktur. Nilai proyek yang ada dalam Memorandum of Understanding (MOU) antara investor China dengan perusahaan-perusahaan di Indonesia mencapai nilai 27,4 miliar dollar AS.

Proyek terbesar dalam kesepakatan tersebut adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara di Tanjung Selor, Kalimantan Utara, senilai 17,8 miliar dollar AS. Urutan berikutnya, proyek pembuatan galangan kapal senilai Rp 5,15 miliar dollar AS. Lalu di posisi ketiga adalah pengembangan kawasan industri di Sulawesi Tenggara senilai 1,5 miliar dolar AS.

Berbagai analis mengemukakan, iklim investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) di Indonesia diproyeksi semakin diperkuat oleh dominasi investor China dan Jepang. Pasalnya kedua negara tersebut saat ini menilai Indonesia sebagai negara tujuan investasi yang menarik.

Kontroversial

Berbagai kalangan pro kontra terkait terus meningkatnya investasi China di negeri ini. Investasi China telah menjadi isu yang semakin kontroversial karena ketegangan etnis dalam negeri dan persepsi bahwa perusahaan China mengimpor banyak pekerja mereka sendiri dan membangun infrastruktur untuk menurunkan standar daripada pesaing Jepang atau barat.

“Meski soal investasi China menjadi isu kontroversial, dan terkesan Jepang serta negara barat lainnya ‘ngiri’ dengan sikap Presiden Jokowi yang terkesan pro negeri Tirai Bambu itu, yang jelas nilai investasi mereka di sini terus meningkat. Dalam hal harga justru China menawarkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan Jepang. Negeri ini lebih serius berinvestasi di Indonesia. Saya kira Jokowi lebih melihat pada keseriusannya," kata Koordinator Indonesia for Transparency and Akuntability, Agus Chaerudin, di Jakarta, Rabu (23/8/2017).

Apalagi, lanjut Agus,  kedekatan secara ekonomi Indonesia-China telah terjalin sejak lama. Sementara dengan Jepang, Indonesia secara historis memiliki pengalaman tersendiri.

"Cara berdagang China sejak dulu telah dikenal. Bahkan mulai dari China menerapkan Jalur Sutra. Sementara Jepang, dulu justru menjajah Indonesia, dan ini berpengaruh. Secara historis baru dekat dengan Indonesia secara‎ ekonomi adalah pasca kemerdekaan," terang dia.

Kendati begitu, ia melihat, kedua-duanya (China dan Jepang) sama saja. Maksud Agus, keduanya justru akan mempersulit Indonesia. "Sama saja keduanya. Sama-sama terapkan bunga pinjaman tinggi," terang dia.

Sementara itu pengamat ekonomi politik dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng. bukan hal  baru jika segala sesuatunya yang berbau ekonomi di negeri ini berkiblat ke China. Ekspor China ke Indonesia termasuk diantaranya ekspor 'Utang’ dan 'Krisis'.

Daeng mempertanyakan hasrat rezim Jokowi-JK yang begitu bernafsu membangun infrastruktur. Pasalnya, kondisi keuangan bangsa saat ini sudah sedemikian mengkhawatirkan.

"Sederhananya, mau membangun apa saja silahkan. Tapi kalau uangnya ada, komponen bahannya siap, tenaganya orang kita. Ini (Jokowi) kan tidak, semuanya impor," ‎kata Daeng di Jakarta, Rabu (23/8/2017).

Menurut dia, proyek infrastruktur sekarang seluruhnya disandarkan kepada asing. "Uang utang ke China, bahan-bahan yang dibutuhkan dari China, tenaganya juga begitu," beber dia.

Padahal, kata Daeng, jumlah hutang China sendiri terhitung pada tahun 2016, sebesar 31,700 triliun dolar. "Jadi, China ini juga negara yang dililit hutang. Artinya, China jelas mengekspor utang dan krisis ke Indonesia. Sehingga masalah yang sangat kompleks mereka sudah terkoneksi dengan kita. Ini bahaya," jelas Daeng.

Kiprah China

Kiprah China dalam persaingan ekonomi global semakin kentara. Kor Kian Beng, jurnalis The Straits Times, menyinggung pertemuan negara-negara APEC yang berlangsung pada 8-10 November 2014. Dalam ulasannya, Kor Kian Beng mengatakan, APEC Summit akan diingat sebagai pertemuan yang memberikan hasil lebih jelas (tangible) daripada pertemuan-pertemuan terdahulu. Kejelasan itu bisa dilihat dari langkah pertama China menindaklanjuti pakta perdagangan Pacific Rim.

China menunjukkan pada perekonomian global bahwa mereka memang ingin berperan lebih besar, mengambil kepemimpinan di antara negara-negara Asia Pasifik. Sekalipun demikian, masih ada yang belum begitu jelas apakah China akan lebih berperan “dari dalam” sistem internasional di bawah kepemipinan Amerika Serikat ataukah akan bersaing dari “luar”.

Istilah “Asia Pacific Dream” adalah ungkapan yang dikemukakan oleh Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

“Perkembangan China akan membawa peluang dan keuntungan yang besar bagi negara-negara Asia Pasifik dan dunia. Kami bersungguh-sungguh untuk bekerja sama untuk mewujudkan mimpi Asia Pasifik,” kata Xi Jinping di depan 1500 pemimpin bisnis dan pelaku korporasi yang hadir di Beijing dalam pertemuan APEC  Senin, 10 November 2014 lalu.


(Sammy)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats