Di Publish Pada Tanggal : Senin, 07 Agustus 2017 22:15 WIB

Tarif Listrik Seharusnya Lebih Murah

Jakarta, Hanter - Serikat Pekerja PLN beharap Pemerintah dan PT PLN (Persero) mampu melakukan efisiensi untuk menekan tarif listrik semurah mungkin agar menggerakkan perekonomian masyarakat, hingga masyarakat menjadi lebih sejahtera. 
 
Ketua serikat Pekerja PLN, Jumadis Abdan memperkirakan saat ini ada sekitar Rp 60 triliun beban yang ditanggung PLN akibat kesalahan dalam penyelenggaraan sistem kelistrikan nasional. 
 
Dia mengemukakan, menjadi kegalauan bersama tarif listrik di Indonesia relatif mahal. Negara tetangga seperti Malaysia saja misalnya, bisa jauh lebih murah, dalam pemakaian tertentu hanya Rp 650 per kWh.  
 
“Disana tidak berdasarkan golongan tapi berdasarkan batas pemakaian. Di kita untuk pemakaian 900 VA sudah lebih Rp 1300 per kWh. ini sangat memberatkan masyarakat dan mempengaruhi tingkat kesejahteraan mereka,” kata Jumadis.
 
Hal itu disampaikannya pada seminar nasional bertajuk "Upaya Penurunan BPP Listrik Untuk Harga Listrik Yang Murah" di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (7/8/2017). Dalam penyelenggaraan seminar ini, SP PLN menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM) UI. 
 
Lebih lanjut Jumadis mensinyalir, setidaknya ada tiga faktor yang membuat tarif listrilk menjadi lebih mahal, yaitu harga dan jenis energi primer, pola operasi dan biaya pemeliharaan. 
 
Mengenai energi primer saat ini, jelasnya, sebanyak 8 persen bauran energi primer terdiri dari BBM, dan diketahui penggunaan BBM menelan biaya yang lebih besar dibanding penggunaan Gas. 
 
Dia membandingkan di negara-negara tetangga, mereka hampir 50 persen energi primer mereka terdiri dari bauran gas, belum lagi harga gas mereka lebih murah dibanding dengan apa yang didapat oleh PLN, sehingga pembangkit mereka mampu menyedia listrik yang murah bagi masyarakat.
 
“Hampir 50 persen di Malaysia menggunakan gas alam sementara Indonesia baru 25 persen. Harga gas disana juga lebih murah sekitar USD 4,6 per MMBTU, sedangkan di PLN hampir dua kali lipat harganya. Kalau itu dirupiahkan, inefisiensinya bisa meancapai Rp 25 triliun. Nah kalau harga gas ini bisa diturunkan sekitar USD 5 per MBBTU untuk PLN, maka PLN bisa menghemat BPP mencapai Rp 2 triliun. Maka tidak berlu menaikkan harga listrik, bahkan bisa turun,” ujarnya.
 
Kemudian terkait pola operasi, dengan kehadirannya IPP menggunakan regulasi take or pay hal ini juga menjadi beban bagi PLN, terkadang meskipun tersedia produksi dari pembangkitan PLN namun PLN tetap mengutamakan listrik produksi swasta.
 
“Kita minta kalaupun listrik swasta hadir, harus sesuai dengan UU No 30 tahun 2009 pasal 4. Mereka itu hanya berpartisipasi dan tidak dominan, kalau kita mengatakan idealnya maksimal 20 persen konposisi listrik swasta dalam kelistrikan kita. Semakin banyak akan semakin menjadi beban, karena sistem take or pay,” tegasnya.
 
Sementara itu, Ketua Kajian Energi Universitas Indonesia, Iwa Garniwa mengusulkan agar pemerintah menerapkan harga listrik yang berbeda untuk setiap daerah. "Hal ini perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi keenomian masyarakat yang berbeda di setiap wilayah," ujar Iwa.
 
Sementara Ketua BEM UI M Syaiful Mujab mengatakan, akademisi saat ini sangat mendukung usaha pemerintah dan PLN menghadirkan energi dan listrik murah untuk rakyat. "Dengan tarif listrik yang murah, ekonomi Indonesia bisa maju dan keluar dari keterpurukannya. Karena energi adalah fondasi ekonomi," tegasnya. 
 


(Danial)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats