Di Publish Pada Tanggal : Sabtu, 22 Juli 2017 22:59 WIB

80 Persen Lulusan BBPLK Serang Terserap Industri

Jakarta, HanTer - Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tidak hanya menuntut hadirnya tenaga kerja yang terampil dan berkompeten, tetapi juga harus sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

“Penyesuaian dengan kebutuhan ini penting, sehingga tenaga kerja kita bisa cepat diserap industri dan dunia usaha,” kata Kepala Balai Besar Pengembangan latihan Kerja (BBPLK) Serang, Fauziah, Jumat (21/7/2017).

Fauziah menuturkan, upaya penyesuaian tersebut sudah dilakukan BBLPK Serang dengan menggandeng ratusan perusahaan. Bahkan, masing-masing perusahaan tersebut turut menyesuaikan kurikulum dan turut menyediakan pelatihan kepada peserta pelatihan kerja.

“Kami melibatkan industri karena mereka yang tahu kebutuhannya. Saat ini ada 335 perusahaan mitra yang terlibat langsung pelatihan,” terang Fauziah.

Dengan begitu, kata Fauziah, peserta pelatihan kerja di BBLPK Serang langsung terserap oleh industri setelah lulus. “Setelah lulus, 80 persen (peserta) langsung ditempatkan kerja,” ujarnya.

BBPLK Serang sendiri, jelas dia, mempunyai dua program pelatihan kerja berdasarkan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) yang sesuai dengan program 3R (revitalisasi, rebranding, dan reorientasi) BLK. Yaitu, teknik las dan teknik listrik.

Pelatihan Berbasis Kompetensi, ditopang oleh tiga pilar utama, yakni untuk membangun sumber daya manusia (SDM) unggul berbasis kompetensi yang diperlukan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indoensia (SKKNI).

"Pelatihan berbasis yang menitik beratkan pada penguasaan kemampuan kerja yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai dengan standar yang ditetapkan di tempat kerja," ucapnya.

Lebih lanjut dikatakan, pihaknya tidak hanya menerima peserta dari lulusan dari SMK. Namun juga ada pelatihan untuk para penyandang disabilitas bahkan lulusan pesantren untuk masyarakat setempat. Hingga saat ini, total peserta pelatihan kerja mencapai 574 peserta.

Pengangguran Tinggi

Terpisah, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Banten, Al Hamidi mengatakan, Provinsi Banten menduduki peringkat empat terbesar di Indonesia yang angka penganggurannya tinggi, setelah Kalimantan timur, Jawa Barat, dan Maluku.

"Tingginya angka pengangguran itu tak sebanding dengan besarnya jumlah perusahaan, yang mencapai sebanyak 14.327. Semua itu terdiri dari perusahaan besar, sedang, dan kecil,” jelas Hamidi.

Masalah ini, jelas Hamidi, berakar dari tingkat pendidikan dan kompetensi masyarakat Banten yang masih rendah. Tak pelak, Disnakertrans Provinsi Banten mencatat terdapat 10 ribu tenaga kerja asing yang bekerja di provinsi tersebut.

“Ini juga akibat kebijakan pemerintah dalam investasi asing, sehingga membuka kesempatan tenaga kerja asing merebut lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal. Satu tenaga kerja asing sama saja merebut kesempatan lima tenaga kerja lokal untuk bekerja,” tandas Hamidi. 

 

 

 


(Arbi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats