Di Publish Pada Tanggal : Sabtu, 17 Juni 2017 19:03 WIB

Peneliti: Inovasi Pertanian Tekan Harga Bawang

Kupang, HanTer - Praktisi Pertanian Agribisnis Ir Leta Rafael Levis, M. Rur. Mnt, mengatakan inovasi sistem pertanian dapat menekan harga bawang dan komoditas pangan lainnya di Nusa Tenggara Timur.
 
Inovasi ini ini penting untuk membuat bawang putih bisa tumbuh subur dan berbuah di tanah-tanah tropis dan bisa menjadi jawaban terhadap rendahnya produktifitas bawang putih dalam negeri, katanya di Kupang, Sabtu (17/6/2017).
 
Sebab, menurut dia, inovasi pertanian berdampak pada kelangsungan perdagangan komoditas dalam negeri. "Berkaca dari Tiongkok, inovasi di bidang pertanian di negara itu telah berhasil mendongkrak ekspor buah dan produk holtikultura lain hingga bisa ekspor dengan harga yang kompetitif," katanya.
 
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang ini mengatakan hal tersebut menanggapi tingginya harga bawang di Tanah Air menjelang Idul Fitri 1438 Hijriah dan solusi mengatasinya.
 
Hasil survei dan penelitian yang dilakukan Undana menunjukkan NTT memiliki karakteristik lahan dan iklim yang cocok untuk mendukung pengembangan tanaman bawang putih dan merah sebagai komoditas yang banyak dibutuhkan rumah tangga dan untuk kebutuhan obat-obatan lainnya.
 
Hanya saja belum ada gerakan untuk menanam dan membudidayakan tanaman bawang putih (Allium sativum) dan bahkan belum ada petani di NTT yang fokus membuka lahan pertanian khusus untuk menanam bawang sebagai tanaman dari genus Allium itu.
 
Padahal, katanya, potensi lahan yang ada di Nusa Tenggara Timur cukup untuk mengembangkan jenis anaman ini guna memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
 
Hal ini kata Ketua Komisi Penyuluh Pertanian di NTT mayoritas penduduk yang berprofesi petani 3.042.780 orang atau mencapai 64,74 persen dari sekitar 5,03 juta penduduk NTT dengan potensi lahan kering seluas sekitar 2.379.005 ha dan potensi lahan basah mencapai 127.308 Hektare.
 
Dalam konteks lokal saat ini katanya harga bawang putih di pasaran selalu mengalami fluktuasi yang ekstrim. Di Kupang, misalnya harga bawang putih melonjak tajam dengan harga eceran tertinggi Rp70.000-80.000 per kg.
 
Atau naik hampir dua kali lipat dari harga jual bawang putih pada Mei 2017 yakni Rp40.000-Rp45.000 atau lebih tinggi dari harga acuan tertinggi Kementerian Perdagangan, yakni Rp 38.000.
 
"Persoalan fluktuasi ekstrim ini dipicu oleh permintaan yang lebih besar dari pada ketersediaan bawang putih di pasaran, apalagi di bulan Ramadan. Lonjakan harga ini juga diperparah ulah para kartel bawang putih yang sering memainkan harga dengan mengatur suplai ke pasaran agar harganya melonjak.
 
Persoalan produksi bawang putih dalam negeri juga jadi faktor lain. "Saat ini produksi bawang putih dalam negeri hanya sekitar 20.295 ton atau jauh dari kebutuhan konsumen yang mencapai lebih dari 400 ribu ton per tahun.
 
Sebab lain melonjaknya harga bawang putih katanya disebabkan ketergantungan Indonesia terhadap impor. "Bayangkan hampir 95 persen bawang putih kita impor dan sebagian besar dari Tiongkok, Malaysia dan Vietnam," katanya.
 
"Memang tak bisa dipungkiri karena bawang putih memiliki karakteristik khusus. Tanaman sub tropis ini sangat sulit untuk tumbuh di negara tropis seperti Indonesia. Oleh karena itu, untuk menggenjot produktifitas bawang putih dalam negeri dibutuhkan inovasi dalam bidang pertanian," katanya.
 
Untuk itu, semua pihak berharap pemerintah dapat melakukan langkah-langkah strategis untuk mengatasi keersediaan komoditas ini pada waktu-waktu yang akan datang, seperti menekan impor agar dapat menumbuhkan produktifitas bawang putih dalam negeri. (Ant)


(Hermansyah)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats