Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 16 Mei 2017 23:33 WIB

Kemenhub Dorong Setiap Kapal Miliki Asuransi Pencemaran Laut

Denpasar, HanTer  - Indonesia, Filipina dan Jepang kembali melakukan kegiatan Regional Marpolex (Marine Polution Exercise) Tahun 2017, yang berlangsung pada 15-18 Mei 2017 di Pelabuhan Benoa, Bali.

Marpolex merupakan kegiatan kerja sama antara coast guard Indonesia, Filipina dan Jepang dalam rangka mengintegrasikan kemampuan dalam operasi pemadaman kebakaran, penyelamatan, pengamanan, dan penanggulangan tumpahan minyak di laut. 

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kemenhub Jonggung Sitorus mengatakan, walaupun banyak perusahaan yang bergerak di perminyakan dan menggunakan laut sebagai alat transportasi. Namun, hanya sedikit yang ikut mengansuransikannya dengan alasan keberatan membayar premi.

Padahal, sambung dia, di Indonesia ada UU yang mewajibkan untuk menghindari pencemaran laut. Sehingga bagaimanapun harus bisa menghindari pencemaran laut. 

"Makanya kita sedang belajar dari Singapura. Baru ada potensi pencemaran saja harus membayar ini dan itu. Dan tidak ada yang menolak. Rata-rata kapal tidak masuk ke Singapura jika tidak dilengkapi asuransi pencemaran tersebut," jelasnya usai membuka secara resmi Regional Marpolex di Pelabuhan Benoa, Bali, Selasa (16/5/2017).

Jonggung menjelaskan, penanggulangan tumpahan minyak di Indonesia terdiri dari 3 (tiga) tahapan atau tingkatan. Yakni Tier 1 (tingkat lokal) dengan Koordinator Misi/Mission Coordinator Syahbandar pelabuhan setempat, kemudian Tier 2 (tingkat daerah) dengan Koordinator Misi/Mission Coordinator Syahbandar Koordinator, serta Tier 3 (tingkat nasional) dengan Koordinator Misi/Mission Coordinator yaitu Dirjen Perhubungan Laut selaku Kepala PUSKODALNAS.

"Kalau sudah sampai tier 3 kita akan bisa meminta bantuan kepada negara kita khususnya Filipina dan Jepang," ucapnya.

Proses penyelamatan dan evakuasi tersebut akan diperagakan esok hari di perairan Bali. Hal ini sejalan dengan tujuan utama Marpolex yaitu memastikan bahwa pelaksanaan penanggulangan bisa dilaksanakan dengan efektif dan efisien.  

"Besok kita lakukan itu prosedur yang akan kita peragakan dan kita laksanakan. Jadi nanti akan kita laksanakan sebagaimana riil situation riil sekenario, jadi kalau terjadi tumpahan bisa dilaksanakan jadi untuk menguji keefektifan penanggulangan tumpahan minyak di laut," tukasnya.

Sementara itu Coast Guard Jepang, Kapten Kaneko mengatakan, di Asia Tenggara jika ada kecelakaan di luar maka Jepang dipastikan akan berpartisipasi mengirimkan bantuan darurat internasional. Dalam bantuan itu Jepang juga mengirimkan tenaga ahli dan peralatan untuk mengatasi tumpahan minyak secara maksimal. Contohnya waktu  kecelakaan kapal yang terjadi di Filipina beberapa waktu lalu. 

"Kami akan memberikan dukungan secara maksimal untuk berpartisipasi," tegasnya. 

Sebagai informasi, Regional Marpolex 2017 adalah latihan ke-20 Regional Marpolex, adapun latihan pertama Regional Marpolex dilaksanakan pada tahun 1986 bertempat di Davao, Filipina, dan terakhir dilaksanakan di Perairan Cebu, Filipina pada bulan Mei 2015.

Regional Marpolex 2017 diisi dengan berbagai kegiatan dan latihan antara lain Upacara Pembukaan, Pre-Sail Conference, Controllers’ Meeting, Task Group Conference, Communications and Table Top Exercise, Exercise Manuver, Final Exercise, SailingPass, Exercise Critique. 

 


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats