Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 05 April 2017 23:59 WIB

Cara Berpikir SMI Akan Tingkatkan Ketimpangan Ekonomi

Jakarta, Hanter - Dalam Seminar Ekonomi Makro di kantor PT Astra Internasional Tbk, Jakarta, Senin (2/4) lalu, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (SMI) menyatakan bahwa intervensi negara di bidang ekonomi tak selalu berdampak baik. Dominasi negara yang terlampau besar justru menghambat kemajuan, bahkan merusak. Baginya tak ada negara yang maju karena pemerintahnya dominan.
 
Masih kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu, negara bisa maju kalau perusahaan-perusahaan swasta diberi kebebasan untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Maka, swasta termasuk usaha kecil dan menengah (UMKM), harus didorong untuk mandiri, jangan bergantung pada bantuan pemerintah.
 
Dalam seminar tersebut, SMI juga mendorong PT Astra Internasional Tbk menambah perusahaan-perusahaan afiliasinya untuk melantai di bursa saham. Langkah tersebut dinilai bisa memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat Indonesia.
 
Menanggapi hal tersebut, pengamat ekonomi Universitas Bung Karno (UBK) Gede Sandra menyatakan bahwa pendapat SMI jelas salah. Pasalnya, seluruh negara-negara maju di Asia Timur yang merupakan tetangga Indonesia, dapat maju karena besarnya peranan negara dalam perekonomian. 
 
"Cara berpikir SMI yang hendak meminimalisir peran negara dalam perekonomian khas doktrin Bank Dunia. Suatu doktrin yang bila diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia dapat menghasilkan ketimpangan ekonomi yang luar biasa," kata Gede saat berbincang dengan redaksi, Rabu (5/4).
 
Bila seperti solusi Menkeu SMI jadi diterapkan imbuh Gede, maka usaha kecil dan menengah (UMKM) didorong berkompetisi secara mandiri tanpa bantuan negara, maka mereka (UMKM) pasti kalah. Karena tanpa dukungan negara, tidak mungkin UMKM dapat bersaing dengan swasta yang besar-besar.
 
“Solusi SMI untuk UMKM hanya akan hancurkan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja ini. Bisa dibayangkan apa jadinya bila UMKM-UMKM kita dipaksa berkompetisi melawan raksasa semacam grup Astra, yang sebagian besar sahamnya dimiliki konglomerat Hongkong, Jardine?,” pungkas Gede.
 
Lebih lanjut, Gede mengakui tak heran dengan cara berfikir SMI. Pasalnya mantan Kepala Bappenas era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu memang tidak pernah memiliki prestasi apapun dalam membantu UMKM. Sementara dukungan SMI pada grup Astra pun bukan tanpa sebab. 
 
Ditambah lagi, kata Gede, SMI adalah mantan komisaris independen Astra pada tahun 2002, sebuah perusahaan otomotif yang puluhan tahun dibesarkan di Indonesia tapi hingga kini tidak mampu memproduksi mobil nasional. 
 

 


(Arbi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats