Di Publish Pada Tanggal : Senin, 09 Januari 2017 19:07 WIB

Rp 8.050/Liter, Harga Pertamax Di Indonesia Masih Murah

Jakarta, HanTer - Dari sembilan negara, ternyata harga jual Pertamax (non subsidi) di Indonesia US$ 0,60/liter (Rp 8.050/liter), berada di posisi tiga  paling murah, setelah Malaysia US$ 0,47/liter (Rp 6.337/liter) dan Myanmar US$ 0,57/liter (Rp 7.686/liter).  
 
Yang termahal adalah Singapura US$ 1,37/liter (Rp 18.474/liter), kemudian Laos US$ 1,09/liter (Rp 14.698/liter), Thailand US$ 0,97/liter (Rp 13.080/liter), dan Filipina US$ 0,88/liter (Rp 11.866/liter). Sementara di Kamboja US$ 0,84/liter (Rp 11.327/liter), Vietnam US$ 0,82/liter (Rp 11.057/liter). Demikian dikutip dari www.globalpetrolprices.com.
 
Seperti diketahui,  harga Pertamax RON 92 per 5 Januari 2017 lalu naik Rp 300/liter menjadi Rp 8.050/liter dari sebelumnya Rp 7.750/liter.
 
Tidak Naik
 
Pengamat kebijakan energi, Sofyano Zakaria mengatakan kenaikan harga jual bahan bakar minyak (BBM) non subsidi mulai 5 Januari 2017 merupakan aksi murni korporasi PT Pertamina. Kenaikan harga hanya terjadi pada BBM non subsidi saja.
 
Artinya, harga solar dan premium tidak ikut naik. Dengan begitu, dan angkutan umum serta masyarakat yang biasa menggunakan BBM premium atau solar subsidi tetap bisa membeli BBM tersebut dengan harga yang seperti biasa.
 
”Implikasi kenaikan harga BBM Non subsidi, seharusnya tidak berpengaruh terhadap harga bahan kebutuhan pokok (sembako) serta harga barang dan jasa lainnya,” ujar Sofyano, di Jakarta, Senin (9/1/2017).
 
Sofyano menambahkan, harga BBM subsidi yang banyak digunakan kendaraan umum baik angkutan barang atau penumpang masih tetap. Masyarakat bisa mendapatkan solar dan premium tetap dengan harga normal.
 
''Harga BBM premium Rp6.450/ liter (non jamali) dan harga Rp6.550/ liter di luar wilayah Jakarta, Madura dan Bali (jamali). Sementara, harga solar bersubsidi Rp.5.150/liter,'' ujar Sofyano yang juga Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) itu.
 
Disamping naiknya harga minyak dunia, lanjut Sofyano, besaran harga BBM non subsidi atau BBM keekonomian, juga terpengaruh dan terkait dengan kurs dolar AS.
 
Menurutnya, sudah jelas terbaca dari apa yang disampaikan pemerintah bahwa kenaikan harga BBM hanya untuk BBM non subsidi yang selama ini memang harganya ditetapkan oleh badan usaha seperti Shell, Total, AKR dan Pertamina khusus jenis Pertamax, Turbo, Pertalite, Dex dan Dexlite.
 
''Kenaikan harga BBM itu pantas terjadi pada bisnis BBM non subsidi disebabkan naiknya harga minyak dunia yang sudah terjadi sejak bulan lalu. Rata-rata harga minyak mentah bulan lalu masih 44-47 Dolar AS/ barel. Namun Saat ini, harga minyak mentah dunia sudah naik menjadi US$52-55 / barel. Implikasinya, tentu harga produk BBM non subsisi akan naik pula,” jelas Sofyano.
 
Kenaikan harga jual BBM keekonomian (non subsidi) ini terjadi di seluruh dunia. “Kecuali pada negara-negara yang memang masih mensubsidi BBM-nya (ini sama seperti di Indonesia),” pungkasnya. 


(Akbar)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats