Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 06 Januari 2017 23:58 WIB

Kinerja 2017, Rizal Ramli: Ekonomi Kita Masih Mengalami Stagnasi

Jakarta, HanTer - Ekonom senior Dr. Rizal Ramli memprediksi, ekonomi dalam negeri di tahun 2017 akan mengalami stagnasi karena dinilai masih dalam kondisi sulit, akibat tekanan dari eksternal dan internal.

 "Ekonomi kita masih tahap konsolidasi tahun ini," kata ekonom senior DR Rizal Ramli kepada Harian Terbit, belum lama ini.

Menurutnya, faktor eksternal yang patut diwaspadai terhadap pertumbuhhan ekonomi terkait dengan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Trump dalam janjinya saat kampanye akan mengurangi pajak untuk orang kaya di AS, sekaligus meningkatkan pengeluaran untuk infrastruktur.

Sehingga, kata dia, budget defisit AS akan semakin besar dan itu akan mengakibatkan tingkat suku bunga naik.  "Tentu akan terjadi aliran keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia kembali ke Amerika, pulang kandang," ujar Panel Ahli Ekonomi PBB ini.

Untuk faktor internal, lanjut Rizal, pemerintah terlalu fokus dalam pemotongan-pemotongan anggaran. Padahal pemotongan anggaran oleh pemerintah itu dapat mengakibatkan ekonomi dalam negeri menjadi stagnan dan hanya akan tumbuh paling maksimal 5 persen.

Sedangkan, ekonomi dalam negeri yang stagnan itu juga akan berimbas pada nilai jual aset yang juga stagnan, tidak mengalami kenaikan. "Untuk orang asing itu sangat menguntungkan kalau aset di Indonesia harganya turun," sesalnya.

 Pemotongan Anggaran

Mantan Menko Maritim ini juga menyoroti kebijakan pemotongan anggaran oleh pemerintah. Dia mengakui, pemotongan itu akan menambah anggaran negara, sehingga negara mampu membayar utang. Namun hal itu juga akan membuat para pemegang surat utang Indonesia atau Bond Holder yang notabene orang asing juga ikut senang.

"Dari kacamata asing, kebijakan pemotongan anggaran bagus dan menyenangkan. Karena harga aset tidak naik, yang kedua, utang bisa dibayar, tapi dari segi ekonomi kita, rakyat kita, menyedihkan, karena terjadi stagnasi," spaparnya. 

Ditegaskan Menteri Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan model pendekatan-pendekatan perbaikan ekonomi layaknya pendekatan yang dilakukan oleh Bank Dunia. "Kita harus mencoba cara-cara lain yang jauh lebih efektif untuk memacu dan mempercepat pertumbuhan ekonomi," pungkasnya. 

 


(Ali)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats