Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 29 Desember 2016 22:55 WIB

3.040 Restoran di Indonesia Belum Bersertifikat Halal

Jakarta, HanTer -  Hak untuk mendapatkan produk dan makanan halal sudah menjadi gaya hidup dan kebutuhan masyarakat dunia, tidak terkooptasi dengan umat Muslim semata. Sayangnya, implementasi dari Undang-Undang No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) di Indonesia masih minim.

“Kita ini punya peraturan gubernur tentang halal tapi ditaruh di laci saja,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch, Ikhsan Abdullah dalam diskusi akhir tahun bertajuk ‘Peran Produk Halal dalam Memperkuat Daya Saing Ekonomi Indonesia Produk Asing, Halalkah?' di Jakarta, Rabu (28/12/2016).

Ikhsan menilai, pemerintah masih setengah hati untuk mengimplementasikan UU tersebut. Padahal, negara lain di kawasan Asia Tenggara, Asia Pasifik, dan Eropa sudah mulai melirik bisnis halal sebagai pasar yang strategis.

Bahkan, lanjut dia, di negara-negara non-muslim juga ada restoran berlabel dan bersertifikat halal untuk menarik konsumen. Sementara di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim hanya ada hitungan jari restoran berlabel halal. "Padahal potensi bisnis halal itu sangat halal. Bahkan Salah satu pendekar (ahli dari Badan Pengawas Obat dan Makanan) halal kita sudah dikirim ke China, dan China pun sangat respek," ujarnya.

Lebih lanjut Ikhsan mengatakan, saat ini sebanyak 3.040 restoran yang ada di Indonesia belum memiliki sertifikat halal. Sementara yang memiliki sertifikat halal dari MUI baru 46 restoran. “Hanya 46 restoran yang ada di Indonesia yang telah memiliki sertifikat halal dari MUI. Itu temuan yang ada,” paparnya. 

Ia menuturkan, banyak pula restoran menyediakan makanan halal namun juga menyediakan menu non-halal. Padahal sesuai ketentuan produk halal tidak boleh tercampur atau terkontaminasi bahan-bahan makan non-halal. Karena jika terkontaminasi maka makanan halal pun menjadi haram. Sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.  

"Berdasarkan aturan tidak boeh dicampur seperti itu. Karena terkontaminasi," imbuhnya.

Dirinya berharap, agar para pengusaha restoran mendaftarkan sertifikasi halal. Apalagi hak untuk mendapatkan makanan halal juga bukan hanya untuk umat Islam saja. Karena produk halal kini sudah menjadi tren, gaya hidup dan kebutuhan masyarakat dunia.

Oleh karena itu, kata dia, jangan berpandangan bahwa produk dan makanan halal hanya untuk umat Islam saja. Karena setiap produk dan makanan halal sudah pasti dijamin sehat dan higienis. "Jangan sampai dibalikin produk halal hanya untuk umat Islam, tidak. Produk halal sudah menjadi kebutuhan umat lainnya, tren dan lifestyle," ujarnya.

Peran BPOM

Sementara itu Kasubdit Inspeksi Produk Berlabel Halal BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), Meutia mengatakan, meski bukan lembaga yang memberikan sertifikat halal, namun BPOM akan mengawasi peredaran produk-produk yang non halal. Sebab BPOM juga bertugas mengawasi peredaran produk-produk halal. Apalagi di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Indonesia akan diserbu produk-produk impor. 

"Kami akan tetap memeriksa kehalalan produk-produk impor meski sudah berlogo halal dari negaranya masing-masing. Sebab acuan sertifikasi halal di Indonesia tetap berasal dari MUI," ujar Meutia. 

Menurutnya, pihaknya tidak melihat logo halal saat memeriksa atau menginveksi makanan. Namun pihaknya akan melihat bahan baku untuk membuat makanan tersebut. Jika ada makanan yang bahannya terkandung bahan yang tidak halal maka pihaknya akan panggil produsen atau penanggung jawab dari makanan tersebut. 

"Kalau meragukan bahannya kami uji di laboratorium kami. Misalnya kalau ada bahan babi, monggo cantumkan logo babi besar berwarna merah, supaya bisa dilihat konsumen. Kalau tidak mau ya dilarang," tegasnya. 

 


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats