Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 23 Desember 2016 22:10 WIB

BPTJ Temukan 51 Persen Angkutan Umum Tak Laik Jalan

Jakarta, HanTer - Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) mendapati sebanyak 51 persen atau 649 angkutan umum tidak laik jalan, dari 1.266 angkutan umum yang dilakukan ramp chek (inspeksi keselamatan lalu lintas) di 12 terminal yang tersebar di DKI Jakarta sejak 13-22 Desember 2016.

Kriteria tak laik jalan tersebut bervariasi, seperti buku uji dan data kendaraan tidak sesuai, karrtu pengawasan tidak sesuai (pelanggaran izin trayek), sistem penerangan, sistem rem tak berfungsi, dan lampu kendaraan yang tidak menyala.

Selain itu, kelaikan ban yang tidak sesuai seperti ban gundul, ban vulkanisir, hingga komponen pendukung yang tak memadai seperti speedometer tak berfungsi, kaca depan pecah, dan wiper tidak berfungsi.

Begitupun terjadi pada perlengkapan kendaraan bermotor. Di mana, banyak sabuk keselamatan pengemudi tidak ada, segitiga pengaman tidak ada, pintu darurat tidak berfungsi, alat pemecah kaca tidak ada, P3K tidak ada, dan alat pemadam api ringan (APAR) yang tidak tersedia.

“Untuk keselamatan, tidak ada tawar menawar, semua harus dicek betul dan dipastikan aman,” kata Kepala BPTJ, Elly Adriani Sinaga, saat melihat tempat istirahat para sopir di terminal Kalideres Jakarta, Jumat (23/12/2016).

Kunjungannya itu, terkait aktivitas pemantauan di beberapa terminal, terminal bayangan, gerbang tol dan pool bus di wilayah Jabodetabek menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2016. Dalam pemeriksaan itu, 

Ia menegaskan, Untuk kalaikan armada, menurut Elly harus ada terobosan baru. Uji kelaikan bisa dilakukan oleh pengelola otobus (PO) besar. "Uji kelaikan bisa dilakukan oleh swasta dalam hal ini oleh PO besar yang disertifikasi oleh Kemenhub," kata Elly.

Dalam kesempatan itu, ia meminta kepada Kepala Terminal Kalideres Refi untuk terus memperbaiki fasilitas bagi para sopir agar keselamatan pengemudi lebih terjamin. "Karena keselamatan itu bukan hanya mengandalkan armadanya saja, tp terletak pada manusia juga, alias sopirnya. Karenanya sopir harus diperhatikan," jelas Elly.

Hal kedua yaitu untuk memastikan kecukupan Pelayanan bagi para pemudik Natal dan Tahun baru. Fasilitas ruang tunggu di Terminal Pulogebang sudah nyaman, semoga ini bisa dibuatkan juga di terminal-terminal lain.

Menurut dia, para calon penumpang harus mendapat Informasi jelas jadwal keberangkatan bus. Penjualan tiket juga harus diusahakan online segera. “Dengan membeli tiket secara online, ada 3 keuntungan yaitu pertama dapat dipastikan semua penumpang sudah mempunyai tiket saat datang ke terminal,” tegasnya.

Elly juga menekankan agar penumpang tidak akan dibohongi karena harga tiket tertera dan bisa membandingkan harga tiket bus yang satu dengan lainnya untuk jurusan yang sama. “Ini akan sendirinya memberantas calo,” ujar dia.

Elly juga menghimbau pada calon penumpang untuk naik dari terminal yang setidaknya mempunyai ruang tunggu dan tidak naik dari terminal bayangan. Sebab, menurut Elly, menunggu di terminal bayangan lebih berbahaya karena tidak ada izin dan tidak ada kontrol. Bahkan untuk pengemudi juga harus dipastikan ada ruang yang cukup untuk istirahat.

"Pengemudi harus diberi ruang khusus untuk bisa istirahat. Ini ada dalam persyaratan di PM. 40 tahun 2005. Dan kami di sini untuk memastikan kesesuaian fasilitas terminal seperti dalam PM," kata Elly.


(Red)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats