Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 23 Desember 2016 13:43 WIB

PLTA Seko Gairahkan Perekonomian Masyarakat Lokal

Jakarta, HanTer - Proyek listrik 35 ribu MW yang dicanangkan Presiden Jokowi akan terwujud pada 2019 nanti, terpaksa harus direvisi menjadi 20-25 ribu MW. Revisi target itu sebagaimana diungkapkan Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan disebabkan banyak hal yang salah satunya menyangkut aspek sosial. Sebagai contoh, dinamika sosial masih terjadi pada pembangunan PLTA Seko yang berlokasi di Seko Tengah, Kabupaten Luwu Utara, Sulawasi Selatan. Padahal, PLTA Seko yang berkapasitas 480 MW tersebut dipastikan akan melistriki seluruh wilayah Seko dan sekitarnya yang sekaligus menggairahkan perekonomian lokal.

Tercatat, sebanyak 75 persen pembangunan PLTA Seko merupakan pekerjaan sipil yang membutuhkan tenaga kerja lokal maupun material yang juga bisa diperoleh dari wilayah Seko dan sekitarnya. Ditaksir, proyek yang digarap PT Asri Power itu akan menyerap dua ribu tenaga kerja pada masa konstruksi selama enam tahun, serta sebanyak 600 orang setelah beroperasi. Itu sebabnya pemerintah setempat baik Provinsi Sulawesi Selatan maupun Kabupaten Luwu Utara mendukung penuh pembangunan PLTA Seko.

Bahkan, masyarakat setempat yang diwakili Tokoh Adat serta Dewan Adat Seko (DAS) Lembang Matoto’ Lipu Maraninding telah menyatakan dukungannya melalui surat bernomor 03/DAS-LM/IX/2015 tertanggal 14 September 2015. Adapun tembusan surat tersebut ditujukan kepada Camat Seko di Eno, Kepala Desa Tanamakaleang di Pokkapaang, Kepala Desa Embonatana di Amballong, Kepala Desa Hoyane di Hoyane, serta Ketua Masyarakat Adat Salombengan Seko Tengah di Pokkapaang.

Surat tersebut antara lain berbunyi bahwa Dewan Adat Seko mendukung pimpinan PT Seko Power Prima untuk melanjutkan survey yang tertunda sesuai izin prinsip yang dimiliki tentang pekerjaan pembangunan PLTA Seko di wilayah Adat Seko. Dalam surat tersebut, pihak perusahaan juga telah memenuhi sejumlah syarat dari Dewan Adat Seko, seperti membuka akses jalan dari Kalaha, Poak-poak, Pokkapaang dan Hoyane. Pihak perusahaan juga berjanji tidak menerima tenaga kerja dari luar, tetapi memberdayakan tenaga kerja lokal terutama Masyarakat Adat sekitar dan Masyarakat Adat Seko pada umumnya. Bahkan, pihak perusahaan juga siap melakukan ganti rugi lahan maupun tanaman masyarakat setempat selama proses pengerjaan PLTA Seko.

Dengan demikian, isu tentang adanya kerusakan lingkungan seperti perusakan biota sungai maupun akan tenggelamnya tiga wilayah adat akibat PLTA Seko dipastikan tidak berdasar sama sekali. Hal tersebut juga telah dibuktikan beberapa tokoh dan masyarakat Seko yang melakukan studi banding ke PLTA Musi Rawas di wilayah Bengkulu. PLTA Seko telah mengantongi izin dari tingkat kabupaten, provinsi, maupun BKPM. Sementara AMDAL dan izin lingkungannya juga melibatkan ahli dari Universitas Makassar. Atas dasar itulah, PLTA Seko juga dimasukkan ke dalam RUPTL 2016-2025 yang ditandatangani Menteri ESDM.

Secara teknis, pembangunan PLTA Seko akan menggunakan konsep Run Off River (ROR Type) yang menjamin tidak akan ada area penenggelaman/bendungan seperti yang dituduhkan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Pasalnya, air sungai akan dialirkan sementara ke saluran berupa terowongan (tunnel) dengan panjang sekitar 17,3 km dan diameter sekitar 8 meter, untuk selanjutnya dikembalikan ke sungai yang sama. Adapun wilayah proyek ini akan melintasi dua desa yakni Desa Embonatana dan Desa Tanamakaleang. Namun, hampir seluruh bangunan sipil akan berada 50-100 meter di bawah permukaan tanah (underground construction).

Sebelumnya, manajemen PLTA Seko juga telah melakukan sosialisasi melalui pendekatan kearifan lokal terhadap masyarakat setempat yang seluruhnya bisa diterima Masyarakat Adat Seko. Kegiatan sosialisasi tersebut kemudian dilanjutkan dengan survey lapangan pada 2012 hingga 2013, diikuti penyusunan studi kelayakan dengan detail design oleh Asri Power pada 2014. Kemudian pada 2015 dilakukan negosiasi jual-beli listrik (PPA/JV), dilanjutkan dengan masa pembiayaan pada 2016 oleh Asri Power. Adapun 2017 hingga 2023 merupakan masa konstruksi PLTA Seko yang diproyeksikan akan beroperasi pada 2024 mendatang.


(Anugrah)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats