Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 15 Juni 2016 23:20 WIB

Pemangkasan Subsidi Solar Rp500 Per Liter Disepakati

Jakarta, HanTer - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan DPR RI telah menyepakati pemangkasan subsidi solar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2016 sebesar Rp500 per liter dari sebelumnya Rp1.000 per liter.

“Mengenai subsidi solar, kita tadinya mengusulkan Rp 350 per liter dengan harapan sampai 3-4 bulan ke depan, sampai akhir tahun tidak ada perubahan harga solar. Kemudian, Komisi VII menyepakati Rp 500 per liter, kita cek ke Pertamina dan tim Ditjen Migas, subsidi Rp 500 per liter memungkinkan tidak adanya perubahan harga solar sampai akhir 2016,” kata Sudirman di Jakarta, Rabu (15/6/2016).

Sudirman menegaskan, subsidi Solar sebesar Rp 500 per liter telah dibicarakan dengan semua jajaran di Kementerian ESDM. Pihaknya, kini hanya tinggal menunggu keputusan di Badan Anggaran DPR DPR.

"Seluruh asumsi yang disampaikan Banggar kemarin sudah dibahas di masing-masing sub sektor dalam RDP. Jadi asumsi lifting, asumsi harga minyak, subsidi BBM sudah dibahas di RDP bersama para dirjen. Itu yang menjadi kesepakatan, kita hormati, kita tunggu proses selanjutnya di Banggar," tandasnya.

Ia memastikan, meski subsidi dipangkas Rp500 per liter, namun harga solar tidak akan naik hingga akhir 2016. Hal ini telah dipastikan oleh PT Pertamina (Persero) dengan komitmen menjaga harga solar akan tetap Rp5.150 per liter.

"Menurut hitungan Pertamina subsidi Rp500 itu memungkinkan untuk menjaga supaya harga Solar ke depan bahkan sampai akhir tahun diperkirakan tidak naik. Tidak naik itu belum tentu turun, bisa jadi tetap‎," tandasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Minyak dan Gas Bumi (Migas), IGN Wiratmaja Puja mengatakan, dengan asumsi kebutuhan solar tahun ini mencapai 16 juta kiloliter, pemangkasan anggaran subsidi solar sebesar Rp500 per liter untuk enam bulan ke depan akan menurunkan anggaran subsidi solar tahun ini dari Rp16 triliun menjadi Rp12 triliun.

Evaluasi harga BBM, lanjut Wiratmaja, akan dilakukan setiap tiga bulan sekali guna melihat perkembangan harga minyak dunia. Menurutnya, pemangkasan ini tidak akan langsung diikuti oleh kenaikan harga jual eceran solar jika perkembangan harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam enam bulan ke depan, sesuai proyeksi pemerintah. 


(Arbi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats