Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 04 November 2015 20:48 WIB

Bisikan Orang Dekat Penguasa; Konglomerat Bermain di Proyek Kereta Cepat

Jakarta, HanTer - anggota DPD RI AM Fatwa, menyatakan, proyek kereta api cepat (high speed train-HST) Jakarta-Bandung diduga lebih banyak didasari kepentingan bisnis ketimbang sekedar transportasi massal. Masalahnya proyek itu dinilai terlalu mahal di Indonesia.

“Saya mendapat bisikan dari orang dekat kekuasaan. Dia bilang yang menang ternyata para taipan-taipan (konglomerat-Red) juga dalam proyek ini,” kata AM Fatwa dalam diskusi `Menjawab Hak Bertanya DPD RI Tentang Urgensi Perpres KA Cepat Jakarta-Bandung`, Rabu (4/11/2015).

Namun demikian, Fatwa tak mau membeberkan siapa nama-nama konglomerat yang terkait dengan KA Cepat tersebut.

“Tidak etislah menyebut nama, karena kita punya etika politik. Meski begitu, soal sinyalemen ini tetap harus diungkap ke publik,” lanjutnya.

Politikus senior PAN itu mengakui informasi mengenai adanya keterlibatan para taipan itu diperoleh dari partai pendukung pemerintah sendiri.

“Saya mengkhawatirkan proyek KA Cepat ini untuk menghidupkan kembali poros Jakarta-Peking, sebagaimana zaman dulu. Apalagi kepentingan bisnis itu sangat terkait dengan aspek politik,” bebernya.

Malah Mantan Wakil Ketua MPR itu mengakhawatirkan jika Indonesia terancam terjadinya revolusi sosial dalam beberapa tahun kemudian. Keyakinan akan adanya revolusi sosial tersebut karena dia melihat rendahnya moralitas politik dari para pemimpin partai politik di negeri ini.

“Sebentar lagi akan terjadi revolusi sosial yang disebabkan moralitas politik dari pemimpin di negeri ini sangat rendah,” cetusnya.

Yang lebih menyedihkan lagi, kata Fatwa, banyak terjadi pengingkaran perjuangan dari para tokoh atau penggerak reformasi.

“Justru yang mengingkari itu sekarang adalah tokoh-tokoh yang dulu menggerakkan atau perjuangan reformasi, “cetusnya.

Lebih jauh Mantan Wakil Ketua DPR itu menambahkan, terlepas dari setuju atau tidak, dia tetap mempertanyakan urgensi Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2015 tertanggal 6 Oktober 2015 tentang kereta cepat Jakarta-Bandung berjarak 150KM.

Bersama rekannya sesama senator dari DKI Ayi Hambali, pihaknya telah mengumpulkan sebanyak 76 tanda tangan anggota DPD RI yang menggunakan hak bertanya perihal urgensi dan relevansi pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Hak bertanya tertanggal 27 Oktober 2015 diterima oleh pimpinan DPD dalam sidang Paripuna tersebut. Selanjutnya, pimpinan DPD RI menyampaikan surat itu kepada pemerintah agar bisa ditindak lanjuti.

“Jakarta – Bandung memiliki jalur sarana dan prasarana transportasi yang lengkap, bisa kereta api, pesawat, serta jalan tol dan jalan raya. Biaya pembangunan kereta api itu membebani APBN,” tegasnya.

Pemerintah, tambah Fatwa, begitu terburu-buru mengeluarkan Perpres kereta api cepat. Padahal, semasa kampanye Presiden lebih berambisi mewujudkan tol laut atau poros maritim. Sekarang Presiden justru belum mengeluarkan peraturan atau keputusan sebagai landasan hukum untuk merealisasikannya.

“Pertanyaannya pembangunan ini untuk siapa? Siapa orang di belakang pembangunan kereta api cepat itu?, “ pungkasnya.

Untuk diketahui, Polemik kereta api cepat dimulai saat gagasan yang sudah lama tenggelam ini kembali mucul setelah investor Jepang dan investor Cina mengajukan proposal proyek kepada Presiden Joko Widodo.

Awalnya presiden sempat menolak proposal proyek itu karena biayanya membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), tapi akhirnya proyek tersebut mendapat persetujuan juga.


(Luki)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats