Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 22 Mei 2015 03:27 WIB

Hadapi MEA, Kemendag Ingatkan Pentingnya Merek Dagang

Medan, HanTer-Kementerian Perdagangan (Kemendag) meminta agar pengusaha terus meningkatkan kualitas dan sekaligus membuat merek produknya untuk bisa lebih siap menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah dimulai akhir tahun ini.

"Kalau tidak bermutu dan tidak bermerek dengan sah, dikhawatirkan tidak kuat bersaing saat MEA. Padahal siap atau tidak siap, MEA harus dihadapi karena merupakan kesepatan," kata ahli dari Pusdiklat Perdagangan Kemendag Muhammad Hadi Adji Susanto di Medan, Kamis (21/5/2015).

Dia bersama Nurlisa Arfani yang juga dari Pusdiklat Perdagangan Kemendag mengatakan itu pada acara Sosialisasi Modul Diklat Teknis Substansi Perdagangan yang diselenggarakan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perdagangan Kemendag bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumut. Sosisasi itu diikuti para pengusaha termasuk UKM, perguruan tinggi, Kadin dan lembaga lainnya.

Adji menjelaskan, pada era MEA 2015 terdapat sepuluh negara yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Brunei Darussalam, Kamboja, Filipina, Laos dan Myanmar yang terlibat dengan total penduduk mencapai 650 juta jiwa.

"Sepuluh negara itu memiliki pasar yang sama, bebas ke luar masuk barang dan jasa tanpa tarif sehingga tentunya persaingannya semakin ketat," ujarnya.

Oleh karena itu, Adji menilai produk-produk lokal harus tetap dilindungi dengan identitas merek yang kuat. Artinya, kata dia, jika produk lokal masuk ke pasar negara lain tanpa merek sah, maka oleh negara tersebut bisa dengan mudah diubah menjadi seolah-olah hasil produknya yang dijual ke pasar lain.

"Belum aja MEA, sudah banyak produk nasional termasuk UKM yang masuk ke pasar internasional tanpa merek asal Indonesia dan sebaliknya barang impor juga banyak di dalam negeri. Jadi memang harus diatasi," tukasnya.

Menurut dia, merek sangat penting dalam kancah perdagangan sesama anggota ASEAN karena tarifnya berkurang 98,08 persen sampai nol persen sehingga bebas keluar masuk.

"Kalau tidak ada merek yang menandakan dari Indonesia mungkin perdagangan ke negara lain di ASEAN terhambat," jelasnya.

Dewasa ini, menurutnya, pemerintah juga terus mendorong pengembangan produk kelapa sawit yang saat ini masih hanya sekitar 12 turunan dari Malaysia yang mencapai 20.

Sementara, Kasie Ekspor bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sumut menyebutkan, tarif bea masuk sudah lama diturunkan sehingga seharusnya pengusaha sudah bisa lebih siap menghadapi MEA.

"Merek memang diperlukan untuk mengantisipasi agar jangan sampai terjadi produk Sumut diklaim menjadi milik asing dan dijual dengan harga lebih mahal pula," pungkasnya.


(adiantoro/ant)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
free web stats