Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 18 Juli 2018 17:52 WIB

PBB Menyerukan Bantuan Lebih Besar Untuk Pengungsi Rohingya

PBB, HanTer - PBB pada Selasa (17/7) menyerukan bantuan lebih besar masyarakat internasional bukan hanya buat pengungsi Rohingya tapi juga buat masyarakat penampung mereka di Asia Tenggara dan Selatan, terutama di Bangladesh --yang bertetangga.
 
Di dalam pernyataan kepada pers, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Myanmar Christine Schraner Burgener menggaris-bawahi perlunya bagi bantuan lebih besar internasional buat pengungsi dan masyarakat penampung mereka dalam menangani "kondisi berat" yang terus mereka hadapi dan juga dalam hal meringankan resiko musim hujan.
 
Lebih dari satu juta pengungsi Rohingya telah meninggalkan rumah mereka di Negara Bagian Rakhine, Myanmar Utara, kata Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) sejak Agustus lalu, ketika serangan gerilyawan terhadap pos keamanan memicu gelombang perkosaan, pembunuhan dan pembakaran desa oleh pasukan milisi sipil dan pemerintah.
 
Pengungsi tersebut menyelamatkan diri sampai ke Malaysia dan Indonesia, tapi terutama ke negara tetangga Myanmar, dan banyak pengungsi menyelamatkan diri ke Banglades, yang bersebelahan dengan Myanmar.
 
Utusan khusus PBB itu baru saja mengakhiri kunjungan resminya ke Bangladesh, dari 14 sampai 16 Juli, kata Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu siang. Di Ibu Kota Bangladesh, Dhaka, wanita pejabat tersebut bertemu dengan Perdana Menteri Sheikh Hasina, masyarakat diplomatik dan tim PBB di negeri itu.
 
"Krisis yang berlangsung memerlukan penyelesaian politik, yang menangani pangkal masalah tersebut," kata utusan khusus PBB itu di dalam pernyataan yang dikeluarkan di Markas Besar PBB di New York.
 
Di Cox's Bazar, Bangladesh, wanita pejabat tersebut mengunjungi kamp pengungsi yang menampung lebih dari 600.000 pengungsi Rohingya dan mendengarkan keterangan mengenai kekejaman yang tak terperikan yang dilakukan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Utusan khusus itu "sangat terenyuh" oleh kisah pribadi dan keuletan mereka, kata pernyataan tersebut.
 
Dalam semua pembahasan selama kunjungannya, utusan khusus itu menggaris-bawahi pentingnya pertanggung-jawaban atas kejahatan yang dilakukan.
 
Ia juga menyampaikan dukungannya bagi penerapan Nota Kesepahaman (MOU) 23 November 2017 antara Pemerintah Bangladesh dan Myanmar, dan MOU 6 Juni antara Pemerintah Myanmar, UNHCR dan Program Pembangunan PBB (UNDP) sebagai langkah pertama yang penting.
 
Ia mengatakan penerapan kesepakatan tersebut mesti dimulai sesegera mungkin bersama dengan langkah lain ke arah "lingkungan yang kondusif bagi pemulangan secara sukarela, aman, bermartabat dan berkelanjutan" pengungsi ke tempat asal atau negara pilihan mereka, kata pernyataan itu.
 
Yang menjadi prioritasnya ialah membantu menangani pangkalan krisis tersebut, termasuk melalui pelaksanaan saran Advisory Commission on Rakhine State, terutama diakhirinya pembatasan terhadap hak dasar seperti kebebasan bergerak dan penyelesaian masalah kewarganegaraan.
 
Myanmar biasanya tidak memberi kewarganegaraan kepada Rohingya, dan menganggap mereka sebagai Muslim Bangladesh, yang tinggal secara tidak sah di Mynamar --yang kebanyakan warganya adalah pemeluk Buddha.
 
Ada kondisi mendesak buat pihak terkait untuk melakukan tindakan nyata ke arah sasaran MOU tersebut, kata utusan PBB itu --yang menambahkan PBB siap menyediakan keahlian dan pengalaman yang berkaitan dengan masalah tersebut. Utusan PBB itu juga menyerukan diberikannya perhatian bagi pentingnya prinsip-prinsip PBB, termasuk peningkatan dan perlindungan hak asasi manusia.
 
Pengunjung lain pejabat PBB ke kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh adalah William Lacy Swing, Kepala Badan Migrasi PBB (IOM). Ia mengatakan penting bagi dunia untuk tetap memusatkan perhatian pada krisis tersebut, dan memperingatkan bahwa saat musim hujan mengubah banyak lereng gunung jadi lumpur dan cuma seperempat dana yang diminta untuk seluruh reaksi sejauh ini terpenuhi, kebanyakan kemajuan yang dibuat dalam beberapa bulan belakangan sangat terancam akan ambruk.
 
Ia juga mengatakan bahwa, selain keperluan pengungsi, krisis itu memiliki dampak yang sangat besar pada masyarakat penampung, masalah yang juga perlu ditangani.


(Ant)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats