Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 24 November 2017 19:43 WIB

Mnangagwa Sah Sebagai Presiden Zimbabwe

Harare, HanTer - Presiden baru Zimbabwe Emmerson Mnangagwa yang dilantik pada Jumat (24/11/2017) kemarin berbicara di stadion yang penuh sesak, berjanji untuk melayani semua warga negaranya.
 
Sumpah jabatan Mnangagwa dipimpin oleh Hakim Agung Luke Malaba, dengan mengatakan bahwa dia akan setia kepada Zimbabwe, melindungi dan mempromosikan hak-hak dan orang-orang Zimbabwe dan melepaskan tugasnya sebaik-baiknya. Mnangagwa didampingi oleh istrinya Auxilia dan memberinya ciuman setelah selempang presiden hijau ditempatkan di lehernya.
 
Presiden kedua Zimbabwe itu mengatakan bahwa dia merasa sangat rendah hati untuk mengambil peran tersebut. Bahkan dia juga menuturkan bahwa dirinya tidak menyadari banyak orang Zimbabwe dari seluruh perbedaan politik dan ras yang telah membantu membuat hari ini.
 
Mnangagwa juga memberikan penghormatan kepada pendahulunya Robert Mugabe, memanggilnya seorang ayah, mentor, kawan seperjuangan dan pemimpinnya.
 
Sebelumnya, Mugabe meninggalkan kantor kepresidenan secara dramatis pada minggu ini setelah 37 tahun pemerintahan otoriter. Kepergiannya mengikuti perebutan kekuasaan di mana ia terlebih dahulu memecat Mnangagwa sebagai wakil presiden untuk membuka jalan bagi Grace Mugabe, wanita muda istri Mugabe  untuk menduduki kursi kepresidenan.
 
Pasca pemecatan, Mnangagwa pun melarikan diri dari negara itu namun kembali kenegaranya dengan menjadi Presiden. "Tugas yang harus dilakukan adalah membangun kembali negara kita. Saya diminta untuk melayani negara kita sebagai presiden semua warga tanpa memandang warna, kepercayaan, agama, suku, totem atau afiliasi politik," katanya.
 
Meskipun Mnangagwa telah menggulingkan penguasa Zimbabwe yang telah lama berkuasa, namun dia masih dikaitkan dengan banyak orang atas beberapa kekejaman terburuk yang dilakukan partai Zanu-PF yang berkuasa sejak negara tersebut memperoleh kemerdekaan pada tahun 1980.
 
Dia pun disebut sebagai "spymaster" negara itu selama konflik sipil tahun 1980an, di mana ribuan warga sipil terbunuh. Tapi dia menolak peran apapun dalam pembantaian tersebut dan menyalahkan tentara. 


(Hermansyah)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats