Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 01 November 2017 12:00 WIB

Iran Kecam Tindakan Selektif PBB Terhadap Pelanggar Hak-hak Anak

New York, HanTer - Duta Besar Iran di PBB telah menekankan bahwa tekanan politik terhadap badan dunia menghentikannya dari tindakan yang diperlukan terhadap negara-negara yang telah melanggar hak anak-anak.
 
Sementara menangani Debat Terbuka Dewan Keamanan untuk Anak-anak dan Konflik Bersenjata pada hari Selasa waktu setempat, Gholamali Khoshrou mencatat bahwa 2016 merupakan "tahun yang mengerikan" bagi anak-anak di negara-negara yang terlibat dalam konflik bersenjata.
 
"Sedikitnya 4.000 pelanggaran yang diverifikasi oleh pasukan pemerintah dan lebih dari 11.500 pelanggaran yang diverifikasi oleh kelompok bersenjata non-negara telah terjadi dalam periode pelaporan yang relevan. Mereka melakukan tindak kekerasan terhadap anak-anak, melancarkan serangan tanpa pandang bulu terhadap populasi sipil, sekolah dan fasilitas kesehatan yang ditargetkan serta terjadinya penahanan anak-anak dalam jumlah besar," katanya.
 
Dia kemudian mencatat bahwa rezim Tel Aviv tidak pernah masuk daftar hitam oleh PBB meski terus-menerus menargetkan anak-anak Palestina.
 
"Laporan 2016 tentang masalah ini dan badan-badan PBB lainnya mendokumentasikan bahwa jumlah anak-anak Palestina yang berada dalam tahanan militer mencapai tingkat tertinggi yang tercatat sejak 2010, dengan 444 anak (termasuk 15 perempuan). Penggunaan amunisi hidup sering dilakukan oleh pasukan Israel yang menyebabkan pembunuhan 30 anak Palestina tahun ini," katanya.
 
Dia menambahkan bahwa Arab Saudi juga masuk dalam daftar hitam PBB tahun lalu karena membunuh dan melukai anak-anak Yaman, namun kemudian dihapus menyusul ancaman dan tekanan dari Riyadh.
 
"Tahun lalu, koalisi pimpinan Saudi pertama kali masuk daftar hitam, berdasarkan temuan PBB yang mengindikasikan bahwa mereka bertanggung jawab langsung atas 60% korban anak-anak, termasuk kematian 785 anak-anak akibat pemboman sekolah dan rumah sakit. Tapi yang mengejutkan, akhir nama negara itu dihapus dari daftar, karena tekanan dan lobi yang berat," pungkasnya.


(Hermansyah)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats