Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 25 November 2016 11:32 WIB

Kisah Pilu Muslim Rohingya Terusir, Disiksa, Diperkosa

Jakarta, HanTer - Ribuan warga muslim etnis Rohingya berduyun-duyun kabur menyeberangi perbatasan untuk mengungsi ke Bangladesh, dari tempat asalnya di Provinsi Rakhine, Myanmar barat laut.

Mereka mengungsi karena menghindari kekerasan yang sudah berminggu-minggu mengharubiru Provinsi Rakhine.

Kepada CNN, beberapa di antara mereka mengaku diperkosa, disiksa, atau menyaksikan rumah mereka dibakar dan anggota keluarga mereka dicabut nyawanya.

"Jika (militer) menemukan anak laki-laki di atas 10 tahun, mereka membunuhnya. Para lelaki dewasa dicomot oleh militer," kata Lalu Begum. "Ketika militer datang, kami lari dari rumah kami, saya tak tahu apakah suami saya sudah mati atau masih hidup."

Pembersihan etnis

Begum yang saat ini tinggal di kamp pengungsian Kutupalong, Bangladesh, mengungkapkan bahwa beberapa wanita di desanya diperkosa oleh tentara pemerintah Myanmar.

"Ketika tentara-tentara itu melihat gadis-gadis cantik, mereka menyuruh mengambilkan air, lalu mereka masuk rumah dan memperkosa gadis-gadis itu," kata Begum.

Sekitar satu juga warga Rohingya hidup di Rakhine di mana mereka dianggap minoritas yang tak punya negara.

Pemerintah Myanmar tak mengakui kewarganegaraan Rohingya karena menganggap mereka imigran ilegal dari Bengal (Benggala), padahal etnis Rohingnya sudah menetap selama bergenerasi-generasi di Myanmar.

John McKissick, pejabat badan pengungsi PBB di Bangladesh, sampai menyebut Rohingya sebagai "manusia paling tertindas di dunia." "Sepertinya sudah menjadi tujuan militer Myanmar untuk secara etnis membasmi penduduk ini," kata dia kepada CNN.  

Para pengungsi di Kutupalong mengaku meninggalkan rumah mereka di tengah malam, menyusuri desa ke desa untuk menghindari tentara Myanmar sampai kemudian menyeberangi Sungai Naf untuk melintas masuk ke wilayah Bangladesh.

"Saya perlu waktu empat hari. Ketika desa kami dibakar, kami pindah ke desa lain, dan terus berpindah-pindah. Perjalanan ini mengantarkan kami ke tepi siang," kata Begum.

Dimusnahkan

Sebuah laporan dari Human Rights Watch menyebutkan bahwa 1.250 rumah warga Rohingya dibakar pemerintah Myanmar, yang kemudian dibantah Myanmar dengan berkilah bahwa para penyerang di desa-desa itulah yang membakarnya.

"Citra-citra satelit terbaru memastikan bahwa penghancuran desa-desa Rohingya itu jauh lebih luas dan mencakup lebih dari tempat-tempat yang diklaim pemerintah (Myanmar)," kata Brad Adams, Direktur wilayah Asia Human Rights Watch.

"Serangan pembakaran yang nyata terhadap lima desa Rohingya sangat memprihatinkan sehingga pemerintah Burma (Myanmar) harus menyelidikinya dan mengadili pihak-pihak yang bertanggung jawab."

Peraih Nobel dan ikon demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, dikritik habis-habisan atas sikap bungkam pemerintahannya menyangkut isu ini yang dipandang McKissick sebagai bukti dia kehilangan kendali terhadap militer.

"Myanmar mesti mematuhi hukum internasional dan menghormati hak asasi manusia, dan mereka saat ini tidak berbuat apa-apa, dan sepertinya pemerintah yang terpilih secara demokratis itu tidak mengendalikan militer," kata McKissick.

CNN sendiri sudah berulang kali meminta komentar dari kantor pemerintahan Suu Kyi namun tidak mendapatkan jawaban.


(Ant)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats