Di Publish Pada Tanggal : Sabtu, 21 Maret 2015 17:32 WIB

Kesepakatan Damai Tak Tercapai, Myanmar Memanas

Jakarta, HanTer - Kesepakatan damai yang tidak kunjung tercapai antara pemerintah dan para pemberontak dari kelompok bersenjata di tapal batas Myanmar membuat keadaan di wilayah tersebut makin memanas. Pertempuran demi pertempuran terjadi tanpa bisa dielakkan.

Negara bagian Shan dan Kachin, yang teritorialnya bersebelahan dengan Tiongkok, menjadi pusat konflik. Selama beberapa bulan, puluhan orang tewas akibat baku tembak dan puluhan ribu lainnya mengungsi, baik ke wilayah Myanmar lain maupun ke daratan Tiongkok, yang membuat negeri Tirai Bambu berang.

Kejadian terkini pada hari Jumat (13/3/2015). Terdapat lima warga negara Tiongkok yang tewas akibat ledakan bom di perbatasan Tiongkok-Myanmar, tepatnya di Provinsi Yunnan, yang masuk wilayah pemerintahan Presiden Xi Jinping. Pemerintah Tiongkok menuding bom tersebut berasal dari pesawat militer Myanmar, yang ditolak mentah-mentah oleh negeri pimpinan Presiden Thein Sein.

Pemerintah Myanmar lekas menolak tuduhan itu. Mereka menyatakan bahwa bom tersebut berasal dari para pemberontak yang menyebut dirinya "Myanmar National Democratic Alliance Army" (MNDAA) di wilayah Kokang, wilayah terpencil di Shan, dan berjanji akan menyelidiki kasus tersebut.

"Penyelidikan mendalam akan dilakukan untuk mengetahui apakah kelompok pemberontak Kokang terlibat dalam kejadian yang memberikan dampak buruk pada hubungan Myanmar-Tiongkok dan menciptakan kekacauan di perbatasan," kata pemerintah Myanmar melalui surat kabar Global New Light of Myanmar yang disarikan kembali oleh Antara.

Sementara itu, Tiongkok, yang sempat memanggil Duta Besar Myanmar dan mengirimkan jet-jet tempurnya untuk berpatroli di perbatasan akibat penembakan warganya itu, berusaha meredakan ketegangan melalui pernyataan dalam editorial media pemerintah The Global Times.

"Akan sangat positif jika Tiongkok dapat membantu Myanmar mewujudkan rekonsiliasi dan perdamaian etnik. Ini harus menjadi rencana jangka panjang Tiongkok untuk membangun kekuatan diplomatik," kata editorial tersebut.


(Ris)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats