Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 10 Oktober 2017 18:02 WIB

Dicemari Pakan Ikan, Pecinta Danau Toba Gugat Menteri LHK Rp905 Triliun

Jakarta, HanTer - ‎Saat ini kondisi Danau Toba yang terletak di Sumatera Utara sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, saat ini danau terbesar di Indonesia tersebut sudah tercemar dengan dipenuhi pakan ikan (pelet). Pakan ikan itu berasal dari kegiatan usaha perikanan dengan cara membuat keramba jaring apung (KJA). Akibatnya air di Danau Toba tersebut tidak bisa dimanfaatkan untuk masyarakat sekitar. Selain itu pencemaran Danau Toba juga akan menghalangi sebagai destinasi wisata dunia.
 
Ketua Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), Maruap Siahaan mengatakan, pihaknya melalui PT Sucofindo (Persero) pada (10/11/2016) lalu telah melakukan pengambilan data, pengolahan dan analisis terhadap kualitas air danau Toba. Hasilnya sangat mencengangkan karena kandungan air telah tercemar. Sehingga kualitas air Danau Toba bukan lagi sebagai nomor satu untuk kehidupan masyarakat Danau Toba.
 
‎"Hasil analisis tersebut menyatakan bahwa air danau Toba saat ini sudah tercemar, dan bukan lagi air dengan kualitas nomor satu." kata Maruap di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Selasa (10/10/2017).
 
Maruap menuturkan, pencemaran Danau Toba diduga dilakukan oleh perusahaan perikanan bernama  PT Aquafarm Nusantara dan PT Suri Tani Pemuka. Kedua perusahaan perikanan tersebut setiap harinya menebar pelet sekitar 250 ton. Hampir 20 persen pelet tersebut tidak dimakan ikan. Sehingga membuat sisa pelet mengendap di dasar danau. Endapan pelet tersebut membuat kandungan air Danau Toba menjadi tercemar dan tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. 
 
"Yang lebih parah lagi ada warga di Kecamatan Simanindo saat ini kesulitan menemukan air minum bersih, mereka harus berjalan sejauh tiga kilometer dari Danau Toba demi mencari air minum bersih," ungkapnya. 
 
Terhadap kondisi air Danau Toba yang sudah tercemar, sambung Maruap, maka pada 11 Agustus 2017 lalu, pihaknya mengajukan gugatan terhadap ke berbagai pihak. Diantaranya PT Aquafarm Nusantara (Tergugat I), PT Suri Tani Medika (Tergugat II), Menteri LHK (Tergugat III), Gubernur Sumut (Tergugat IV), Bupati Simalungun (Tergugat V), Bupati Samosir (Tergugat VI), Bupati Toba Samosir (Tergugat VII) ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
 
Berbagai pihak yang digugat tersebut telah melanggar Pasal 69 ayat (1) huruf a UU RI No.32 Tahun 2009 dengan tuntutan pemulihan fungsi air danau Toba senilai Rp 905.667.000.000.000,- (sembilan ratus lima triliun enam ratus enam puluh tujuh miliar rupiah). Nilai tererbht diajukan sebagai gugatan untuk mengganti atas pencemaran Danau Toba saat ini. 
 
"Karena pencemaran air danau tetap berlangsung hingga sekarang, Kami melakukan upaya hukum pidana dan perdata. Pidana ke Bareskrim dan perdata di Pengadilan Negeri. Dan kami juga meminta kepada pemerintah supaya tegas yang telah menyampaikan kepada masyarakat luas bahwa danau Toba itu harus dikembalikan lagi menjadi danau yang airnya bersih, " paparnya.
 
Sementara tim ligitasi YPDT, Deka Saputra Saragih, SH, MH mengatakan, pihaknya mengajukan gugatan ke sebagai pihak tersebut telah melanggar tentang pencemaran lingkungan. Apalagi dua perusahaan yang digugatnya tersebut hingga kini masih tetap melakukan aktivitas di Danau Toba. "Kami menuntut mereka untuk menghentikan kegiatan di Danau Toba," tegasnya. 


(Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats