Di Publish Pada Tanggal : Sabtu, 16 September 2017 13:51 WIB

Antisipasi Komunisme, Pemuda Wajib Amalkan Pancasila

Jakarta, HanTer - Pancasila saat ini, cenderung hanya dihafalkan dan dijadikan hiasan. Namun, tidak dihayati apalagi diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu disampaikan jurnalis senior Malang Times Ahmad Baihaqi Kadmi saat menjadi pembicara diskusi Lingkar Studi Pancasila Brawijaya bertema "Peranan Organisasi Kepemudaan Dalam Menangkal Organisasi Masyarakat Anti Pancasila" di Kawasan Jalan Idjen Kota, Malang, Jawa Timur, Jumat (15/9/2017).
 
"Pancasila adalah komitmen teguh dari semua elemen bangsa untuk hidup bersama. Menjalin kasih sayang dan empati dan mengutamakan musyawarah dengan dijiwai ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga tercipta Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia," kata pria yang akrab disapa Gus Bai itu melalui siaran persnya, Sabtu (16/9/2017).
 
Gus Bai mengutip pernyataan Duta Besar Palestina untuk Indonesia, bahwa Pancasila adalah rahmat yang tiada tara yang mempersatukan sekian ratus keragaman. Arab yang cenderung homogen, lanjutnya, justru saat ini terjebak perang tanpa ujung yang mencerai-beraikan umat Islam. 
 
Untuk itu, Pemuda harus mau menelusuri sejarah perjuangan bangsa yang penuh nilai luhur dan keunikan dibanding bangsa lain. Termasuk sejarah lahirnya Pancasila. Dari proses penelusuran sejarah, papar Gus Bai, diperoleh tahapan selanjutnya untuk melakukan penghayatan terhadap masing-masing sila. Sehingga Pancasila benar-benar merasuk di dalam jiwa dan menjadi cara pandang terhadap dunia. Sekaligus menjadi pusat pengendalian diri dalam setiap perbuatan.
 
Setelah itu, sambung Gus Bai,Pancasila harus diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Mulai dari hal-hal yang kelihatannya sepele.
Menurutnya,  pemuda menjadi sosok sentral yang paling bisa diharapkan memperbaiki keretakan-keretakan bangsa akibat tidak diamalkannya Pancasila. Khususnya dibkalangam mahasiswa. Oleh karena itu, pemuda hari ini harus segera melakukan tahapan-tahapan penghayatan dan pengamalan Pancasila.
 
"Agar distorsi kebangsaan oleh kelompok anti Pancasila bisa ditangani dengan lebih mudah dan ampuh," urainya.
 
Sementara itu, dalam diskusi itu, pemateri lainnya dosen senior Jurusan Sosiologi Universitas Brawijaya, Ahmad Imron Rozuli ikut memaparkan pandangannya. Pria yang akrab disapa Cak Imron itu memaparkan sekilas tentang Komunis. Cak Imron mengutip pernyataan Franz Magnis-Suseno, bahwa semakin orang paham tentang Komunis, maka tidak sekalipun akan mencita-citakannya.
 
"Ide komunisme dengan cita-cita masyarakat tanpa kelas dalam melawan kapitalisme, menemui jalan buntu. Penyebabnya, ide tersebut tidak bisa diejawantahkan dan tidak aplikatif bahkan utopis. Ide-ide yang dikemukakan Karl Marx pun juga mengesampingkan aspek rohaniah manusia yang sebenarnya juga sangat pokok untuk membangun sebuah masyarakat yang sejahtera," paparnya.
 
Kemudian, terkait dengan konstelasi perekonomian dunia pada saat ini, kata Cak Imron, dominasi kekuatan ekonomi dunia akan menentukan cara berpikir dan berperilaku sebuah masyarakat.
Baik Amerika Serikat dengan kapitalismenya membawa budaya konsumeris. Maupun, Tiongkok dengan kapitalisme yang disamarkan untuk menutupi ekspansi ideologinya.
 
"Untuk menghadapi kondisi demikian, maka pengejawantahan nilai-nilai Pancasila menjadi sangat urgen," tegas Cak Imron.
 
Penjelasannya, Pancasila menjadi jalan terbaik dalam mewujudkan masyarakat sejahtera yang juga diidamkan penganut ide Kapitalis maupun Sosialis-Komunis. Pancasila juga lebih komprehensif karena tidak menegasikan hubungan manusia dengan Tuhan dan berupaya menciptakan keseimbangan dalam kehidupan.
 
Orang bebas melakukan kegiatan ekonominya seperti halnya dalam kapitalisme. Namun tidak mengingkari kewajiban distribusi pendapatan kepada yang kurang mampu. Seperti kewajiban zakat dalam ajaran Islam, sehingga terwujud masyarakat adil dan makmur.
 
Cak Imron juga menyinggung bonus demografi yang akan dihadapi bangsa Indonesia. "Hal ini merupakan peluang emas bagi Indonesia untuk membangun masyarakat sesuai nilai-nilai dalam Pancasila dan melawan dominasi kekuatan AS maupun Tiongkok," pungkasnya.
 
Diskusi tersebut diharapkan dapat meredam gejolak meresahkan di tengah masyarakat akhir-akhir ini.  Seperti aksi gerakan-gerakan puritan yang membenturkan Pancasila dengan ajaran Islam, gerakan terorisme, isu kebangkitan komunis, mewabahnya hoax dan provokasi kebencian dan terjangan arus globalisasi.


( Safari)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats