Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 07 April 2015 13:21 WIB

Kisah Pelarian Daeng Koro Sebelum Tewas di Tangan Polisi

Palu, HanTer - Pelarian Daeng Koro akhirnya berakhir dengan timah panas yang bersarang di tubuhnya. Daeng Koro yang bernama asli Sabar Subagio tewas di tangan aparat saat kontak senjata di pegunungan Sakina Jaya, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, 3 April 2015.
 
Daeng Koro adalah salah satu pimpinan kelompok teroris di Poso yang dipercaya lihai mengatur strategi perang dan menjadi pelatih bertempur di daerah Morowali dan Poso. Dia pernah bergabung di TNI AD meski akhirnya dipecat pada 1992 karena pelanggaran berat.
 
Daeng Koro adalah wakil Santoso memimpin gerombolan sipil bersenjata yang selama ini bersembunyi di kawasan hutan Poso. Meski bersembunyi, mereka kerap meneror warga dan aparat dengan penembakan atau penculikan. Hingga kini dua warga Lembah Napu, Poso, masih hilang sejak Desember 2014, dan kuat dugaan diculik oleh kelompok teroris.
 
Sementara itu, saat ini sekitar 3.200 pasukan TNI masih menggelar latihan perang di Poso, dan pada awal latihan TNI meluncurkan belasan meriam ke tengah hutan yang dipercaya sebagai lokasi persembunyian Santoso dan anak buahnya.
 
Akibat latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat TNI itu, gerombolan teroris terpaksa kabur dari tempat persembunyiannya untuk menghindari bidikan tentara.
 
Wakil Kepala Kepolisian RI Komisaris Jenderal Polisi Badrodin Haiti saat berkunjung ke Palu mengatakan kelompok teroris itu kini terbagi menjadi dua kelompok yang masing-masing dipimpin Santoso dan Daeng Koro.
 
Santoso memimpin sekitar 20 orang sedangkan Daeng Koro membawa 11 orang.
 
Polisi kemudian mendapat informasi bahwa Daeng Koro dan anak buahnya berada di sebuah gubuk terpencil di pegunungan Sakina Jaya, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong.
 
Menurut penuturan saksi, Daeng Koro dan anak buahnya menyandera seorang wanita dan memaksanya untuk memasak. Perjalanan naik-turun pegunungan dari Poso ke Parigi Moutong selama beberapa hari tentu saja membuat mereka kehabisan perbekalan makanan.
 
Kondisi itu membuat Daeng Koro cs mencari rumah petani yang terpencil untuk mendapatkan makanan.
 
Beberapa jam kemudian, pasukan polisi yang dipimpin Kepala Polres Parigi Moutong AKBP Novia Jaya datang dan mengendap tidak jauh dari gubuk yang dijadikan tempat persinggahan Daeng Koro dan 11 anggota pasukannya.
 
Polisi awalnya meminta segerombolan orang berbahaya tersebut untuk menyerahkan diri dengan menyalakkan tembakan peringatan namun justru dibalas tembakan dan lemparan bom rakitan ke arah petugas.
 
Kontak tembak akhirnya terjadi dalam waktu sekitar 45 menit, dan akhirnya menewaskan Daeng Koro.
 
Kelompok bersenjata tersebut akhirnya melarikan diri ke tengah hutan. Diduga ada beberapa orang dari kelompok bersenjata yang terluka akibat baku tembak itu.
 
Saat ini jenazah Daeng Koro masih berada di RS Bhayangkara Palu yang berjarak sekitar 120 km dari lokasi baku tembak.
 
Sehari setelah kematian Daeng Koro, polisi juga berhasil menembak mati terduga anggota kelompok teroris di Desa Toboli, Kabupaten Parigi Moutong. Korban tewas diduga kuat bernama Imam alias Farid.
 
Saat penangkapan Imam sempat terjadi perkelahian satu lawan satu antara Kapolsek Parigi Utara Ipda Marciano Runtu melawan Imam.
 
Sebelum penangkapan, polisi mendapat laporan ada pria yang sedang beristirahat di gubuk yang berada di lereng bukit berjarak sekitar 25 meter dari jalan raya Kebun Kopi, tepatnya di KM 14.
 
Dengan langkah berani, Marciano mendatangi gubuk tersebut dan menanyakan identitas pria di dalamnya. Saat itu, keduanya sempat saling todong pistol namun saat pelatuk pistol Imam ditekan beberapa kali ternyata tidak meletus.
 
Marciano kemudian memukul Imam, dan menembaknya hingga pria yang sudah dijadikan buruan polisi itu jatuh tersungkur tak berdaya. Di tubuhnya ditemukan beberapa bom rakitan yang dibungkus paralon.
 
Selama perburuan kelompok radikal di Kabupaten Parigi Moutong polisi menemukan dua senjata M16, sebuah senjata api laras panjang rakitan, ratusan peluru dan selongsong berbagai jenis, solar cell, telepon genggam, sejumlah senjata tajam, sebuah bendera Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), beberapa bekas bom rakitan, dan alat untuk mengetahui lokasi (GPS).
 
Terima kasih TNI Wakil Kepala Polri Komjen Pol Badrodin Haiti mengemukakan latihan perang TNI yang dilakukan sejak 1 April 2015 di Kabupaten Poso memudahkan polisi mengejar kelompok teroris di daerah itu.
 
Latihan perang yang melibatkan 3.000-an anggota TNI tersebut dinilai membuat kelompok teroris yang dipimpin Santoso dan Daeng Koro tersebut menghidar ke tempat yang lebih aman.
 
Badrodin mengaku Polri sudah mengantisipasi menyingkirnya kelompok teroris dan melakukan penyekatan di beberapa lokasi di Kabupaten Poso dan wilayah perbatasan.
 
"Ini terbukti berhasil, dan telah menangkap dua terduga teroris," kata mantan Kepala Polda Sulawesi Tengah ini.
 
Dia juga berterima kasih kepada TNI selama menggelar latihan perang di Kabupaten Poso sehingga tugas Polri lebih ringan.
 
Dia mengatakan Polri dan TNI terus berkoordinasi saat menumpas gerakan radikal di Kabupaten Poso dan sekitarnya.
 
Sebelumnya Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyatakan latihan perang TNI itu adalah kegiatan rutin tahunan yang lokasinya bisa di mana saja.
 
"Latihan ini tidak untuk menangkap kelompok teroris, tapi kalau ketemu mereka ya diminta menyerah atau ditembak," katanya saat berkunjung ke Palu.
 
Tujuh kasus Badrodin Haiti menyatakan kelompok teroris yang selama ini bersembunyi di Kabupaten Poso, terlibat tujuh kasus pelanggaran hukum di wilayah Sulawesi Tengah yang harus dipertanggungjawabkan.
 
Berdasar catatan kepolisian terdapat serangkaian kasus kekerasan yang diduga kuat dilakukan oleh kelompok teroris selama tiga tahun terakhir, antara lain penculikan dan pembunuhan seorang warga di Lembah Napu, Poso, pada akhir Desember 2014, kemudian pembunuhan tiga warga Desa Tangkura pada Januari 2015.
 
Selanjutnya, pembunuhan dua anggota polisi di Desa Tamanjeka, Poso, pada Oktober 2012.
 
Kemudian beberapa kasus penembakan dan pembunuhan warga di Kabupaten Poso pada selama 2012-2014.
 
Selain itu, kelompok teroris pimpinan Santoso itu diduga kuat melakukan serangkaian penyerangan di Markas Polsek Poso Pesisir Selatan namun tidak menimbulkan korban.
 
Kelompok teroris juga beberapa kali menyerang pasukan Brimob yang sedang patroli pada Desember 2012 yang menewaskan tiga pasukan dan melukai beberapa aparat lainnya.
 
Saat ini polisi terus memburu kelompok teroris yang diduga kuat melarikan diri di wilayah Kabupaten Parigi Moutong dan sekitarnya.
 
Kekuatan mereka diperkirakan telah melemah menyusul tewasnya Daeng Koro dan Imam. Sejumlah senjata dan amunisi juga semakin berkurang, terlebih mereka melarikan diri dengan bekal makanan yang minim.
 
Gerombolan teroris itu diperkirakan telah berpencar dan lari menuju suatu titik tertentu.
 
Aparat sudah mengantipasi hal itu, dan hanya menunggu waktu untuk meringkus kawanan teroris, mengingat ribuan pasukan masih bersiaga di Sulawesi Tengah.
 


(ruli)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats