Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 15 Juni 2016 12:09 WIB

Tajuk: Satpol PP dan Citra Kekerasan

Penyitaan makanan milik seorang ibu pemilik warung tegal (warteg) Kota Serang, semakin memperburuk citra Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).  Kritikan tak sedap terus dilancarkan. Dalam banyak kasus, sikap kasar dan arogan yyang dilakukan oknum Satpol PP terus berlangsung.

Tak bisa disangkal, banyak anggota Satpol PP berlebihan dalam melaksanakan tugasnya. Ketua DPR, Ade Komarudin mengkritik langkah represif yang dilakukan Satpol PP dalam melakukan penertiban terhadap Warteg milik ibu Saeni. Karena langkah represif itu justru membuat rakyat dirugikan.

Komisi VIII DPR mengimbau seluruh jajaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)‎ agar tidak bersikap brutal, tidak overacting seperti menyita makanan tempat makan yang buka di siang hari selama Ramadhan.

Netizen juga sangat kecewa atas cara kasar petugas, yang dengan seenaknya merampas dan menyita makanan di dalam warteg. Meskipun ibu pemilik warteg tersebut sudah minta maaf dan minta ampun.

Memang, mereka hanya menjalankan instruksi atasan. Apakah harus dengan cara kasar dan arogan? Lalu apakah harus dengan memaksa dan merusak? Bukankah lebih baik dengan cara persuasif, santun dan simpatik?

Tugas Satpol PP memang menegakkan pelaksanaan Perda. Sejak tahun 2015, ada perubahan tugasnya, agar lebih berat ke penyuluhan. Tujuannya menyosialisasikan Perda dan mengedukasi masyarakat. Fungsi penertiban tetap ada, sayangnya ini yang masih menonjol. Akibatnya, citra kekerasan yang selalu muncul ke permukaan dan mengundang reaksi publik.

Kini perilaku Satpol PP kembali menjadi perhatian nasional. Solidaritas nasional dalam hitungan jam berhasil mengumpulkan bantuan ratusan juta buat ibu tersebut.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menaruh perhatian serius atas kasus ini. Ia menginstruksikan direktur Satpol PP untuk menegur dan mengingatkan jajaran Satpol PP Kota Serang agar tidak berlebihan saat menjalankan instruksi kepala daerah. Intruksi ini harus dengan simpatik, mengedepankan penyuluhan, tidak over acting dan menimbulkan tidak simpatiknya masyarakat kepada pemerintahan baik pusat maupun daerah.

Satpol PP harus sadar dirinya bukan tentara, bukan pula polisi. Mereka adalah bagian dari rakyat dan sudah seharusnya berpihak kepada kepentingan masyarakat luas. Jadi warga bukanlah musuh Satpol PP.

Kita mengapresiasi anggota Satpol PP yang bekerja keras menegakkan Perda. Peristiwa tentang penertiban pedagang makanan mesti menjadi momentum melakukan pembenahan ke dalam. Satpol PP perlu revolusi mental agar lebih manusiawi, santun dan simpatik.
Membangun Satpol PP menjadi lebih baik bukan hanya tugas daerah. Pusat pun terlibat sebagai pembina. Perlu kajian dan penelitian agar menemukan formula yang tepat agar Satpol PP santun dan manusiawi dalam bertugas.

Kita pun tak menyalahkan kalau ada oknum Satpol PP yang bertindak brutal karena mereka hanya menjalankan instruksi atasan.

Tugas Satpol PP memang menegakkan pelaksanaan Perda. Sejak tahun 2015, ada perubahan tugasnya, agar lebih berat ke penyuluhan. Tujuannya menyosialisasikan Perda dan mengedukasi masyarakat. Fungsi penertiban tetap ada, sayangnya ini yang masih menonjol. Akibatnya, citra kekerasan yang selalu muncul ke permukaan dan mengundang reaksi publik.

Publik mengharap ke depannya Satpol PP tidak melakukan langkah respresif lagi. Meskipun penertiban itu dilakukan untuk menegakkan aturan. Utamakan pendekatan persuasif, dan hal ini tidaklah sulit untuk dilakukan. Toh warga itu bukan musuh bagi Satpol PP.

Dalam melaksanakan tugas, petugas Satpol PP harus optimal. Mereka tak hanya menggusur, juga harus menjaga kemananan lingkungan dari hal-hal yang tidak baik. Semisal, melakukan penjagaan di beberapa tempat umum yang kerap kali dijadikan tempat mesum kalangan muda-mudi. Atau menjaga tempat umum dijadikan arena perjudian dan prostitusi.  Namun, realitas di lapangan, para petugas kurang proaktif menjaga lokasi yang kerap kalai dijadikan tempat-tempat maksiat.

Sekali lagi, supaya citra Satpol PP membaik dan mengurangi kebencian warga, hendaknya dalam menegakkan Perda harus ditangani dengan cara  pendekatan yang lebih manusiawi. Seharusnya dilakukan para Satpol PP dengan menjunjung moralitas serta saling menghargai satu dengan yang lain. Ingat warga itu bukanlah musuh.
 


(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com
free web stats