JAKARTA — Industri kewirausahaan dan kepariwisataan di Indonesia berkembang begitu pesat. Karenanya, sudah saatnya mindset generasi muda kita tidak lagi ‘mencari kerja’ melainkan ‘menciptakan lapangan kerja’ yang dapat mendukung dua sektor tadi.
“Tipikal masyarakat yang mencari nyaman saat lulus sekolah atau kuliah harus diubah. Keadaan ini secara tidak langsung menstimulus orang untuk tidak kreatif,” tegas Ninin Gusdini, ST MT, Ketua Panitia Seminar Nasional Pariwisata & Kewirausahaan bertajuk ‘Revitalisasi Industri Pariwisata dan Kewirausahaan Nasional untuk Peningkatan Daya Saing Bangsa’, Selasa (5/3), di Universitas Sahid Jakarta.
Universitas Sahid Jakarta pun dari awal berdirinya fokus pada dua bidang itu. Setiap disiplin ilmu yang ada di universitas ini lebih diarahkan pada kepariwisataan dan kewirausahaan. Para mahasiswa pun dibekali pelatihan dan keterampilan agar jiwa enterpreneurshipnya terasah.
“Minimal mahasiswa memiliki jiwa wirausaha dan bisa mandiri,” tandasnya.
Hasil dari didikan ini, lanjutnya, sebanyak 30 persen mahasiswanya sudah mampu menciptakan lapangan kerja. Memang belum bisa 100 persen karena membutuhkan proses. Itu sebabnya, pihak kampus terus memberikan pelatihan dan pendampingan.
“Di sinilah peran dan fungsi dunia pendidikan, bagaimana membentuk masyarakat yang bermental enterpreuner, minimal seorang wirausaha. Pekerjaan yang membutuhkan kreatifitas tinggi dan mempu menciptakan sesuatu yang bisa memperbaiki,” tambah Sekretaris Fakultas Teknik Usahid Jakarta ini.
Seminar ini sendiri dalam rangka Dies Natalis ke-25 Usahid. Hasil seminar ini nantinya ‘disumbangkan’ kepada pemerintah agar dapat mendongkrat sektor pariwisata dan kewirausahaan Indonesia. Dengan begitu, sektor pariwisata tidak saja mempopulerkan nama Indonesia, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat.