JAKARTA — Ketua Umum Ikatan Pengusaha Industri Es (IPIES) Jabotabek Rauzi Taher mengungkap kenaikan tarif listrik bertahap 1 Januari 2013 telah membebani industri/pengusaha pabrik es batu. IPIES terpaksa menaikkan harga karena beban tarif listrik menggerus ongkos produksinya.
Mulai 1 Maret kemarin, harga sudah dinaikkan rata-rata 25% sebagai dampak kenaikan rata-rata tarif listrik tahun ini yang mencapai 15%. Kenaikan ini berlaku untuk es balok maupun es kristal (es batu ukuran kecil). Saat ini harga es balok di tingkat pabrik naik dari Rp8.500 menjadi Rp10.500 per balok. “Kami sudah naikkan harga Rp8.300-8.500 per balok, tergantung pabrikan masing-masing, naik Rp2.000,” ujar Rauzi Taher, kemarin.
Sedianya kenaikan akan dilakukan awal tahun bertepatan dengan kenaikan tarif listrik. Namun karena banjir dan musim hujan, ditunda. “Produksi es itu tergantung cuaca, awal tahun selain musim hujan juga banjir di Jakarta, sekarang baru panas. Es itu kalau musim hujan nggak laku,” katanya.
Ia menambahkan komponen listrik pada biaya produksi di pabrik es mencapai 40%-50% sisanya air, amoniak, garam, pegawai, pajak, dan lain-lain. Pola produksi pabrik es harus beroperasi 24 jam memakai listrik. “Rata-rata itu pabrik es per harinya memerlukan daya 850-1.300 KVA per hari,” katanya.